“Aku sudah tak sabar lagi, aku ingin makan.”keluh Alex
“Hei kau tak boleh begitu, disini kita jurinya jadi harus harus bijaksana dalam menilai makanan mana yang layak jadi pemenangnya, jangan seenaknya menilai.”ujar Zest
“Tapi aku sudah lapar Zest.”jawab Alex dengan perut yang terus berbunyi
Kemudian hidanganpun disajikan kepada mereka berdua Ini adalah ujian memasak untuk Leo dan Vesa, apabila Vesa lebih baik dari Leo dia bisa diterima dalam keluarga tersebut menjadi juru masak di rumah itu menggantikan Leo. Zest dan Alex juga telah bosan dengn masakan Leo yang slalu gosong
“Baiklah mana tahu kalau belum dicoba. Ayo kalian berdua makan dan jujur dalam penilaiannya.”ujar Leo
“Bila kau benar- benar seorang yang sangat suka makan, setidaknya hargailah makanan tersebut dan jangan rasakan hanya dengan lidah tapi juga hati dan pikranmu, mengerti.”bisik Zest kepada Alex
“Baik- baik aku mengerti.”keluh Alex dengan suara pelan
“Baik kami akan mulai penilaiannya. Karena kami tidak tahu makanan mana yang dibuat oleh Leo dan Vesa jadi takkan ada yang merasa di beratkan, bagaimana.”ujar Zest
“Ah...kelamaan”ucap Alex
“Ah bagaimana kau ini.”sahut Zest
“Ehmm...ehm.....menarik.....”ucap Alex dengan tenang
“Hebat juga dia, Padahal aku tadi hanya mengarangnya saja.”kata Zest dalam hati
“Hei Zest kemarilah, kau harus coba yang ini, rasanya enak sekali”ujar Alex
“Glek...hei Alex sepertinya punyamu itu enak.”kata Zest kepada Alex
“Baiklah, mari kita coba yang ini.”Zest dengan air liur yang ingin keluar
“Ehm...ehm...hei Alex kau coba yang ini aku coba yang itu.”ucap Zest
“Baiklah. Ehm...ehm...kalau begini akan sulit diputuskan keduanya sama- sama enak.”
“Benar- benar aku setuju denganmu.”ucap Zest kepada Alex
“Apa Sich mereka berdua.”ujar Vesa dalam hati
“Tidak apa- apa mereka memang selalu begitu, seperti kakak adik. Dan kami seperti keluarga. Yang itu bernama Alex, dia itu sedikit pemarah tapi dia anak yang jujur.”ujar Leo
“Lalu yang itu, dia bernama Zest, kau harus sedikit hati- hati dengannya, jangan terlalu menganggap setiap omongannya. Terlebih saat dia tersenyum. Kau harus waspada terhadapnya. Mengerti.”kata Leo
“Kenapa?”tanya Vesa dengan bingungnya
“ah tidak apa-apa,aku hanya bercanda, Maaf ya aku telah membatmu takut, tapi untunglah kau kini jadi salah satu temannya jadi kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya.”sambil tersenyum
“Kenapa ya, saat membicarakan Alex wajahnya sangat ceria tapi setelah membicarakan Zest raut wajahnya langsung berubah menjadi sangat serius.”ujar Vesa dalam hati sambil menatap wajah Leo, Leo tidak melihat karena dia memandang wajah kedua orang bodoh yang sedang makan
“Hei Leo kali ini kau membuat makanan yang luar biasa, walaupun kami tidak tahu yang mana makananmu, tapi salah satu makanan ini pasti buatanmu ya kan.”
“Itu sudah pasti.”ujar Leo
Setelah keduanya mencicipi semua hidangan yang disajikan kini saatnya penilaian.
“Baiklah kami akan segera memutuskan siapa yang akan menjadi pemenang dalam ujian memasak kali ini. Bagaimana Alex”ucap Zest
“Baiklah pemenang nya adalah.....”lanjut Alex
“Tunggu dulu aku punya satu pernyataan, sebenarnya kedua hidangan yang kalian cicipi tadi adalah buatan Vesa. Saat dibelakang aku sadar aku pasti kalah jadi aku minta kepada Vesa untuk menyiapkan dua hidangan sebagai ganti hidanganku” Ujar Leo
“Sudah kuduga.”Kata Zest dalam hati
“Pantas saja, mana mungkin Leo membuat makanan seenak ini. Ya kan Zest.”ucap Alex dengan keras
“Tadi siapa yang memuji makanan buatan Leo ya?”kata Zest basa- basi
“Aku tadi hanya pura- pura saja ko, ya hanya pura- pura saja.”’etiap makanan yang Leo buat pasti selalu gagal dan gosong mana mungkin aku tertipu.”sangkal Alex
“Tapi kau slalu memakannya kan. Oh iya sepertinya aku melupakan sesuatu, tadi aku ingin bilang apa ya kepadamu, oh iya.”kata Zest
“Apa?”tanya Alex
“Tuh liat.”sambil menunjuk kearah Leo
“Hi....”takut Alex
“Alex...!!!”Leo marah karena dihina makannya
“Ampun Leo, ampun....”teriak Alex
“haaaa”tawa Vesa dan Zest melihat Alex dikejar- kejar oleh Leo. Akhirnya Vesa boleh tinggal bersama mereka sebagai juru masak. Alex dan Zest tinggal di Djakarts city. Mereka tidak tinggal berdua saja, melainkan tinggal bersama keluarga Leonardo. Leonardo adalah panglima perang yang berkhianat dari kerajaan kegelapan. Kemudian diantara mereka terdapat gadis yaitu Vesa. Dia sangat membenci Alex dengan sifatnya yang ceroboh, bodoh. Di balik sisinya yang membenci Alex sesungguhnya dia menyukainya. Zest sifatnya sangat misterius dan sulit ditebak dibalik sifatnya yang senang bermain-main dan selalu tertawa dan tersenyum. Pada dasarnya mereka bukan dari satu keluarga yang hanya bersaudara adalah Zest dan Alex.
“Alex bangun, ini hari pertama sekolah apa kau mau telat?”ujar Vesa
“Sudah biarkan saja, paling- paling dia terlambat mendaftar.”sahut Zest bersender dipintu
Setelah jam tujuh Alex baru terbangun.
“Wa...aku terlambat, hei Leo kenapa kau tak membangunkanku. Lalu dimana Zest dan Vesa!”tanya Alex
“Mereka sudah mendaftar,Vesa ingin membangunkanmu tapi Zest bilang tidak usah.”balas Leo
“Zest...awas kau!!lalu kenapa kau juga tak membangunkanku”marah Alex
“Aku bosan membangunkan orang yang selalu terlambat.”ujar Leo
“Kau masih marah ya soal yang kemarin.”tanya Alex
“tidak tahu yua, lebih baik kau cepat ganti baju dan berangkat ke sekolah.”lanjut Leo
Kemudian Alex bergegas kesekolah
“Sekolah macam apa ini?!”tanya Alex dalam hati sambil melihat sekolah yang agak jelek
Saat sampai disekolah Alex yang sedang berlari ditendang oleh seseorang yang sedang bermain bola pada saat itu.duak!!bola mengenai kepala Alex
“Hei sakit tahu, bola siapa ini!?”tanya Alex sambil kesakitan dengan teriak
Zest dan Vesa yang tahu kalau yang teriak itu Alex menengok bukan
“Alex. Sedang apa dia, padahal sudah terlambat”dalam hati Vesa
“Datang juga orang bodoh itu.”kata Zest dalam hati
Orang yang menendang tadi menjawab,”Maaf ya, bisa tolong kembalikan bolanya.”
“Maaf saja belum cukup.”lalu pikiran jahatnya muncul
“Ambil ini.”kemudian Alex menendang bola yang melukainya tadi
Saat menendang bola tersebut bukan bolanya yang terlempar, tapi kaki Alex yang kesakitan
“Aduh sakit.....apa- apaan bola ini keras sekali.”sakit Alex
“hahaha”semua tertawa.
“Dasar bodoh.”kata Zest dalam hati
“Memalukan.” Kata Vesa dalam hati
“Hei kau siapa namamu?”tanya seorang tutor kepada Alex
“Alex, Alexandria.”jawab Alex
“Kenapa kau terlambat.”tanya lagi tutor itu
Lalu datang seorang lagi tutor yang sebagai panitia penyelenggara MOS
“Ada apa ini?”tanya tutor tersebut
“Dia terlambat.”jawab tutor yang satunya
“Oh, baru hari pertama sudah terlambat.”
“Sebaiknya kita apakan dia?”tanya tutor tersebut
“Bagaimana kalau lari keliling lapangan 100 kali.”suruh tutor tersebut
“Apa kau bilang!”sahut Alex sambil gaya mengajak berkelahi
Lalu Zest datang dan
“Sudahlah Alex, dalam hal ini kau yang salah lagipula kita masih dalam tahap penggojlokan. Bila ingin membalasnya lakukan setelah kita resmi masuk disekolah ini.”
Alex langsung reda dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh tutor itu. Tiga hari dan Alex resmi menjadi murid di SMA walaupun harus dengan terpaksa mengikuti apa yang diperintahkan tutor yang menyebalkan tersebut
Ketiganya masuk di SMA yang sama walaupun kelasnya berbeda. Alex dan Vesa satu kelas dan Zest berbeda dengan keduanya. Di dalam kelas Zest bertemu dengan anak- anak yang berkarakter. Diantara mereka semua yang mempunyai aura yang kuat dan pekat adalah Dhas seorang pengendali waktu, Visnu pengguna kekuatan es. Di kelas Alex ada Boufard yang memiliki kekuatan yang sama seperti Alex tapi sayangnya dia tak bisa, boleh dibilang pengendali api mandul.
Saat istirahat Zest pergi keatas atap gedung sekolah untuk menikmati udara segar. Saat melewati ruang kepala sekolah dia berhenti.
“Ruangan ini”terdiam dan sedikit takut Zest dalam hati
“Ruang kepala sekolah.”kata Zest dalam hati sambil menengok ke arah papan nama.
“Oh iya aku baru ingat, mana ada udara segar di abad ini, terlebih di Djakarts.”keluh Zest
Seseorang datang menuju ke atap, Zest bersembunyi, dia ingin mengagetkan orang tersebut.
“Krek.”pintu terbuka
Tek...tek....tek....suara langkah kaki.
“Ternyata dia.”sambil tersenyum dan menahan tertawanya Zest
“Udara pagi memang segar, hari pertamaku sekolah disini, bertemu orang- orang aneh khususnya anak itu, tapi lucu.”Dhas sambil tertawa
“Dia....tersenyum.”termenung Zest dalam hati
“Zest ya...”kata Dhas
“Hi!ketahuan ya...”takut Zest
“Anak yang unik.”ucap Dhas
Zest terdiam sejenak sambil tersenyum. Kemudian dia langsung melaksanakan rencananya mengerjai Dhas.
“Apa ini!aku tak bisa bergerak. Takut, aku takut. Seperti ada yang ingin membunuhku.”takut Dhas dalam hati
Sesuatu mendekat dari belakang, seketika itu pula Dhas langsung berpaling kebelakang.
“hahh...untunglah tak ada apa-apa.”tersenyum lega dengan menghela nafas panjang
Lalu bulu kuduk Dhas merinding karena orang yang Dhas rasa ingin membunuhnya tadi bergerak di belakang Dhas. Dhas takut wajah pucat berkeringat dan langsung berbalik kebelakang.
Tek..tek...tek
“Suara langkah kaki dia di belakang”dengan takutnya
Lalu sekali lagi Dhas menengok kebelakang, tapi sekali lagi tak ada apapun saat Dhas menengok
“Waaa.”kageti Dhas dengan topeng yang dipakainya
“Kyaa...”jerit Dhas dengan ketakutannya.
Zest sangat pengang mendengar jeritan Dhas yang merobek gendang telinganya
“Hei, sudah diam...ini aku....Zest.”suruh Zest kepada Dhas sambil menutup mata
“Ah...akhirnya berhenti juga.”ucap Zest dengan perasaan lega
Kemudian Zest membuka mata dan melihat kearah Dhas dia bingung.
“Dimana dia tadi disini.”ucap Zest
Lalu Zest khawatir dan perlahan melihat kebawah dengan perlahan-lahan
“Oh tidak dia jatuh, dasar penakut.”dengan perasaan takut dan langsung memakai topengnya lagi dan pergi untuk menyelamatkan Dhas yang jatuh dari atap gedung. Lalu dengan kecepatannya yang luar biasa dia lari kencang melewati seluruh gedung menuju kebah berharap dia masih sempat. Semua yang dilewatinya dan semua kertas daun yang lewatinya berhamburan seperti habis terjadi badai.
“Apa itu tadi?”seorang anak bertanya pada temannya
“Tidak tahu”jawab temannya
Alex yang sedang berjalan kekelas dengan Vesa yang membawa tugas yang dikumpulkan melihat tingkah Zest yang sedang berlari
“Bukankah itu Zest, Apa yang sedang ia lakukan?dasar kurang kerjaan. Kau tak apa kan Sa.”ucap Alex kepada Vesa sambil menengok ke arahnya
Dia melihat Vesa marah karena lari Zest semua tugas yang ditangannya berhamburan dan beterbangan
“Awas kau Zest akan ku bunuh kau, lihat saja nanti!”Ucap Vesa dengan kemarahannya yang menggelegar.
“Maaf Zest untuk yang satu ini aku tak dapat membantumu.”ucap Alex dengan sedih.”
Akhinya Zest bisa menangkap Dhas yang seketika itu pula pingsan karena Zest masih memakai topeng dan menyelamakan Dhas, jadi saat di tangkap Dhas semakin kaget dan pingsan karena yang nolong dia adalah hantu.
Dhas membuka matanya saat ia siuman
“Dimana aku.”
“Ah kau ini merepotkanku saja, kau ada di ruang UKS.”
“Di ruang UKS, apa tadi aku pingsan?”tanya Dhas dengan tubuh masih lemas
“Iya, kau ini penakut sekali, baru melihat topeng-ku yang satu ini sudah langsung pingsan bagaimana bila kutunjukkan koleksi-ku yang lainnya.”jawab Zest
“Tak...”suara kepala dipukul
“Apa yang kau lakukan, sakit tahu!”ucap Zest dengan sakit
“Salah sendiri, kau duluan yang mulai.”jawab Dhas
“Tapi tak perlu berlebihan seperti ini kan?”sahut Zest sambil kesakitan
Treek...pintu terbuka
“Visnu, Kau tidak masuk kelas?”Tanya Dhas
Visnu mnghampiri Zest dengan dibatasi oleh tempat tidur Dhas Kedua mata bertatapan antara Zest dan Visnu
“Duar...”pintu terbuka dengan keras
“Akhirnya ketemu juga cepat sembunyi Zest, dia akan datang!”suruh Alex dengan nafas yang terengah- engah
“Apa maksudmu, lalu siapa yang kau maksudkan dengan dia?”
“Dewa kematian!”lantang Alex mengcapkannya
“Ku ingatkan padamu jangan ganggu dia lagi atau aku yang akan jadi dewa kematianmu!”ucap Visnu
Pandang kedua mata. Alex dan Dhas terdiam sejenak
“Hei siapa kau, Hei Zest siapa dia, apa kau...mengenalnya?”tanya Alex
“Kakak, aku tidak apa jangan terlalu menyalahkan Zest, dia hanya bercanda.”sela Dhas
“Dia kakakmu, apa itu benar. Ehm....rasanya kalau diperhatikan kalian berdua tidak ada miripnya.”kritik Alex dengan bingungnya
“Jangan seenaknya saja kau bicara, dia benar- benar kakakku.”
Zest termenung dengan muka yang sedikit sedih sambil muka menunduk kebawah. Dia merasa ingin sekali melindungi orang yang disebut adik, tapi dia tak punya itu. Kemudian dia angkat kepalanya dan tersenyum
“Enak ya punya saudara.”kata Zest
Semua termenung dan terhenyak
“Hei hei hei, lalu kau menganggap aku ni apa Zest?”tanya Alex sambil bersedih
“Maaf ya...”dengan tangan kanan Zest ingin meminta maaf pada Visnu
“Duar!!!”pintu terbuka lagi dengan kasar
“Bila ingin minta maaf, minta maaflah padaku....Zest!”ucap Vesa dengan marahnya, dengan nafas yang terengah- engah karena mencari Zest ditiap ruangan
“Ini dia yang kumaksudkan. Sekarang kau mengerti kan Zest,maaf ya tapi untuk yang satu ini aku benar- benar tak bisa membantumu.”Alex berkata dengan takut
“Dasar bodoh!kenapa kau tidak bilang dari tadi.”balas ucapan Alex dengan keras dan sambil menjitak Alex
“Sakit tau....bukankah aku sudah bilang tadi padamu kau saja yang tidak mendengarnya.Waaaa dia datang Zest.”ujar Alex
Kemudian mereka bertiga saling kejar- kejaran
Setiap hari Alex dan Zest selalu dimarahi oleh gurunya karena tingkah mereka yang aneh- aneh
“Alex, Berdiri diluar sekarang!”pak gur Alex marah karena Alex tertdur saat pelajaran
“Dasar bodoh.”Ucap Vesa
Kemudian dikelas lain
“Keluar.”ucap guru kepada Zest karena tidak membawa tugas
“Baik.”jawab Zest dengan lesu.
“Dasar.”Dhas dalam hati
Alex melihat Zes yang diusir
“Alex kau kenapa?”
“Harusnya aku kan yang bertanya, untuk hal yang satu ini aku memang selalu dikeluarkan.”
“Oh itu ya. Aku dikeluarkan karena tidak bawa tugas dari guru.”
“Ternyata kita sama ya”sahut Alex
Kemudian mereka tersenyum lalu tertawa keras sekali. Karena tertawa mereka yang keras kedua guru yang sedang mengajar keluar dan teriak secara bersamaan.
“Kalian berdua kelapangan dan hormat ke bendera.”
“Baik!!!serempak pula Alex dan Zest menjawab lalu mereka lari ketakutan
Kedua guru tersebut malu masing- masing karena teriak- teriak di sekolah. Alex dan zest menjalankan hukumannya dilapangan. Lalu dari arah lapangan bola datang bola kearah Alex dan mengenainya.Duuaak
“Hei siapa lagi ini yang menendangku akan ku balas kau ya.” Kemudian Alex menendang bola tersebut dengan cara yang diberikan oleh Zest.
“Coba saja kalu bisa.”ejek orang yang kemarin menendang bola kepada Alex
“Oh ya soal yang tadi aku ingin memberi tahumu kenapa kau tak dapat menendang bola tersebut. Itu karena bola tersebut hanya dapat bereaksi terhadap tenaga dalammu. Karena Leo belum mengizinkan kau menggunakan kekuatanmu maka kau juga pasti belum tahu cara menggunakan tenaga dalammu.”itu yang dikatakan oleh Zest saat pulang sekolah sesudah MOS pertamanya
Kemudian Alex mencoba kekuatan dalamnya terhadap Bola tersebut sambil menunjukkan kepada mereka yang mentertawakan Alex kemarin
“Bukankah mereka anak- anak yang kemarin bermain bola. Mereka itu....apa mereka tidak pernah belajar?”tanya Zest dalam hati
Lalu Alex menendang bola itu. Yang terjadi bola terlempar jauh tapi pengontrolannya yang kurang baik akibatnya bola tersebut melenceng jauh.
“Hebat juga dia bisa langsung mengerti ucapanku.” Kata Zest dalam hatinya.
“Boleh juga tendangannya, tapi sayang pengontrolannya kurang baik.”kata seorang yang melihat tendangan Alex
Tapi yang buruknya Alex menendang kearah kaca kepala sekolah dan mengenainya sampai pecah
“Wah gawat, itu ruang kepala sekolah.” Ayo kita pergi
Mereka yang bermain bola pergi dari sekolah tersebut
“Sudah kuduga mereka bukan murid- murid sini. Satpamnya?”tanya Zest sambil melihat kearah satpam. Satpamnya tertidur lelap.
“Sudah kuduga sebelumnya pasti Leo memasukkan kami semua kedalam sekolah yang seperti ini.”
Leo yang sedang ada dirumah.
“Hacyim...sepertinya ada yang membicarakanku, semoga saja mereka tidak tahu kalau sekolah yang mereka masuki itu sekolah yang sudah akan di hancurkan karena tidak diakui kalayakan serta statusnya.”tanya Leo sambil berdoa
“Hei Alex kau ini, harus kukatakan apa ya...kau hebat atau bodoh.”kata Zest
“Apa maksudmu aku tak mengerti.”
“Bodoh sajalah.”
“Hei kalian! Mari ikut saya menghadap kepala sekolah.”tegur pak satpam dari jauh sambil mendekati mereka.
“Memang apa salah kami pak?”tanya Alex
“Kami...apanya yang kami?”Kemudian Alex yang bingung kenapa satpamnya bertanya Kami tapi balik bertanya melihat kebelakang ketempat Zest tadi berdiri, ternyata Zest kabur duluan.
“Maaf Alex.”ujar Zest yang kabur dan bersembunyi
“Kamu tahu itu kaca yang kau pecahkan ruangan siapa?”tanya satpam sambil marah- marah.
“Tidak tahu pak.memangnya itu ruangan siapa pak?”tanya Alex
“Itu ruang kepala sekolah tahu. Kau ini pasti murid kelas satu ya. Apa kau tidak diberitahu oleh pengawas saat masa Orientasi, Walaupun kau kelas satu kau harus tetap menerima konsekuensinya, sekarang ikut bapak.”suruh Pak satpam
“Zest, tolong!”sedih Alex dalam hati
Kemudian Alex berjalan sendiri keruang kepala sekolah setelah mendekati ruang kepala sekolah dia berhenti dan sejenak berfikir
“Aku...harus bagaimana?”tanya Alex dalam hati
Tiba- tiba saja Zest muncul
“Hei bodoh kenapa melamun, cepat masuk.”
“Zest.”dengan gembiranya.
“Kemana saja kau.”dengan marah marah.
“Ayo masuk.”suruh Zest
Kemudian keduanya masuk.
“Akhirnya ruangan ini.”kata Zest dalam hati
Saat didalam
“Oh jadi kalian yang melempari bola ke ruangan bapak?tanya kepala sekolah kepada Alex dan Zest
“Maaf pak, kami berjanji tak akan mengulangin ya lagi.”sahut Alex yang meminta maaf.
“Maaf saja belum cukup. Dulu ada seorang anak yang seusia kalian mealakukan hal seperti kalian, lalu apa kalian tahu apa yang terjadi pada anak itu?”tanya lagi kepala sekolah
“Tidak tahu pak.”jawab Alex
Kemudian kepala sekolah yang duduknya tidak menghadap mereka menunjukkan wajahnya yang sedikit terkoyak. Keduanya terdiam
“Inilah yang terjadi pada anak itu.”
“Menyeramkan.”ujar Alex dalam hati
“Sungguh terlalu.”ujar Zest dalam hati
“Sayang aku bukan dia yang menghakimi anak tanpa toleransi.”ujar kepala sekolah
“Tentang hukuman kalian, akan bapak pikirkan nanti. Sekarang kalian boleh keluar.”
“Hei kalian, bagaimana apa kalian berdua tidak apa- apa?”
“Vesa, untuk apa kau datang kemari.”
“Ya aku agak sedikit khawatir.”jawab Vesa
“Kau pasti mengkhawatirkanku ya?”yanya Alex
“Ya, aku khawatir kepadamu aku takut kau membuat sesuatu yang konyol lagi.”jawab Vesa
“Hei Vesa tidak perlu seperti itu kan.”sahut Alex dengan sedih
“Hei Zest untung saja ya, ku pikir akan jadi seperti dia, ya kan Zest?”tanya Alex
“Ini aneh.”ujar Zest
Alex berbalik dan bertanya,”apanya yang aneh.”
Kemudian Alex menabrak seseorang, ternyata orang tersebut tutor yang waktu itu menghukum Alex. Dia bernama Ryu Vo.
“Hei kau bukankah kau yang kemarin?”kata tutor yang menghukum Alex waktu MOS
“Kau!”kata Alex dalam hati
“Sepertinya hukumanku belum membutmu jera juga rupanya.”
“Apa masudmu!?”tanya Alex sambil membentak
“Hei Alex. Apa yang kau lakukan?”
“Diam Zest ini sekarang jadi masalahku. Lagipula ini bukan masa yang menyebalkan kemarin bukan jadi aku berhak atas sekolah ini juga.”
“Tapi bukan begini caranya.”sahut Zest
Alex lalu menatap Zest dengan pandangan yang belum pernah dilihat oleh Zest sebelumnya
“Ya... terserah kau sajalah.”kata Zest
“Hei bukankah kau yang waktu itu.”tanya Vo
Zest memandang tutor itu dia bernama Ryu Vo.
“Kau itu kan yang kemarin berlari di ruangan sekolah, sepertinya kau lumayan kuat. Begini saja sebagai gantinya dia akan kulepaskan sebagai gantinya kau yang harus bertarung melawanku, bagaimana?”tanya Vo
“Maaf saja ya tapi lawanmu bukan aku.”jawab Zest
“Apa maksudmu!?”Tanya Vo
“Jangan sombong dulu, akulah yang lebih kuat dibandingkan dengan kakakku.”
“Ho jadi dia kakakmu. Jadi bagaimana?”
“Zest, bagaimana kalau....”saut Vesa.
“Kalau begitu jangan beri tahu.” balas Zest dengan tersenyum.
“Lawanmu adalah aku.”Lanjut Alex
“Rupanya kau benar- benar ingin menantangku ya. Tadi aku sudah ingin melepaskanmu tapi apa boleh buat kalau kau ingin ku hancurkan, Hei Diessa siapkan tempatnya.”Suruh Vo kepada temannya yang kemarin juga bertindak sebagai tutor Alex yang pertama menanyakan nama Alex dia bernama Diessa. Seelah mendapat perintah Diessapun pergi.
Zest akhirnya mengizinkannya, dan memberi petunjuk kecil kepada Alex. Zest bilang,”Sekarang semuanya terserah kau. Kau yang memutuskan.”
Dengan bingungnya dia menggaruk kepala dan menjawab,“aku tidak mengerti.”dengan bodohnya,Zest tertawa. Kemudian saat itu juga Alex dan Ryu Vo mengadakan pertarungannya di taman belakang sekolah. Semua orang menyaksikannya.
“Aku akan menghancurkanmu dalam lima menit.”ujar Vo
“Dimana dia.”apa dia percaya padaku, tapi kalau aku sembarangan bertindak bisa- bisa dia...”ucap Vo dalam hati
Vo menyerang dengan pukulannya Alex terpaku melihat kecepatannya, ia ketakutan serta tak dapat menangkisnya. Alex terjatuh, dia berfikir apa yang harus kulakukan, dia ingat kata- kata Zest tapi tak mengerti maksudnya. Sambil berusaha menangkis dan menghindar serangan Ryu Vo dia memikirkan kata- kata yang diucapkan oleh Zest, sejak dulu Zest bila mengatakan sesuatu pasti ada maksud dan tujuannya sendiri.
Sampai ia lelah berfikir dan bertarung, saat Vo ingin mengeluarkan serangannya dari udara. Semua yang melihat merasa ketakutan karena Vo dikenal tak bermain- main bila ingin menghabisi lawannya, begitu juga Vesa. Zest malah tersenyum dan mengatakan sesuatu dengan suara kecil,”lakukan sekarang, anak pintar.”
Pada saat Vo melancarkan pukulannya, Alex juga melakukan serangan yang sama tapi Alex kalah kekuatan. Dan terbaring kaku di tanah. Dia semakin takut karena kekuatan Vo yang luar biasa dia.
“Tetap tidak bisa, kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatanku.”kata Alex dalam hatinya.
Dia membayangkan semua hal tentang Zest saat Zest melindunginya dan semakin membayangkannya diliputi penysalan bertabur amarah yang memuncak dari dasar hatinya.
“Kau ini, anak yang lemah. Sebaiknya kuhancurkan saja agar tidak mengganggu.”ujar Vo sambil mengambil ancang- ancang untuk serangan terakhirnya
Alex yang masih membayangkan emosinya tentang ketidak sanggupannya melindungi dirinya sendiri seketika itu langsung marah mendengar ucapannya Vo.
Semua ketakutan karena Vo tidak segan- segan untuk menghabisi lawannya. Zest tersenyum sambil mengatakan,”Tunggu apalagi,semua menunggumu.”
Ledakanpun terjadi dan sungguh dasyat. Dalam debu yang berterbangan semua mengharapkan yang terbaik bagi keduanya. Setelah debu sedikit demi sedikit menghilang bayang keduanya mulai terlihat jelas. Semua terkejut karena yang dilihat sangat mustahil. Vo kalah dalam serangan yang dikeluarkannya sendiri. Ternyata dalam serangan Vo yang terakhir Alex marah akan kata- kata Vo dan mengeluarkan semua kekuatannya dalam satu serangan. Serangan yang dikeluarkannya juga hasil penggabungannya dengan salah satu batu suci 4 naga.
“Aku memang anak yang lemah, tapi anak lemah yang mengalahkanmu.” Ujar Alex dengan sayap api yang indah di pungungnya dengan perlahan- lahan menghilang
Vo dengan lemasnya terpaku melihat kekuatan dan perkatannya
“Oh iya satu lagi, kau beruntung tidak bertarung dengannya, karena dia lebih kuat dariku. Dia adalah tujuanku.”terusnya berada di dekatnya
“Kau ini, jangan membuat kami khawatir, dasar bodoh.”sambil menampar Alex setelah menghampirinya dengan Zest
“Bagaimana rasanya?”singgung Zest
“Apa? Tamparannya.”balas Alex dengan polosnya
“Kalau yang itu tak usah ditanyakan lagi bukan.”balas Zest
“Sakit.”sahut Alex
Kemudian mereka kembali ke kelas masing- masing. Semua yang mempunyai kekuatan mengawasi Alex dengan mata tajam.
“Kenapa kau tidak mempergunakannya?”tanya diessa
“Diam kau.”jawab Vo
“Tak kusangka kau mampu menepati janjimu.”ujar Diessa sambil tersenyum
“Aku akan membalasnya. Tapi tidak saat ini. Aku ingin mempermalukannya didepan semua orang.”ujar Vo dengan sinis
“Kebiasaan.”ujar diessa
“Diam kau. Aku hanya perlu...”dengan lupanya
Kemudian Diessa memberikan sebuah kertas selebaran dari hasil pertemuan anggota OSIS. Diessa adalah anggota Ketua OSIS disekolah karena itu waktu Vo bertarung dia tidak ada.
“Ayo pergi.”kata Diessa. Sambil tersenyum senang Vo
Kita beralih kepada cerita selingan. Visnu yang kini satu kelas dengan Zest Dhas ternyata Dhas satu rumah dengan Visnu. Mereka bukan bersaudara dan keduanya tidak mempunyai hub. Darah dengan keluarga yang ditempatinya kini Visnu mengetahuinya, tapi Dhas tidak tahu akan hal itu dia sesungguhnya dipungut oleh keluarganya yang sekarang karena keluarganya yang sekarang tidak dapat mempunyai keturunan. Di lain pihak Visnu datang saat sebelum masuk kesekolahnya yang sekarang. Dia datang kekeluarga Dhas dan mengaku kakak dari Dhas dan ia ingin memastikan adiknya bak- baik saja serta ia ingin memastikannya dengan tinggal bersama mereka untuk sementara waktu. Kenyatannya Visnu adalah anggota lucky 7 yang dibuang bersama salah satu anggota lainnya ke bumi untuk membawa Dhas.
Anggota lainnya yang dimaksud adalah Felix, tapi kini ia berada di tempat yang jauh dari Dhas maupun Visnu. Dia kini berada di Jepang ia jatuh di laut jepang dan terdampar di belakang sebuah kediaman keluarga. Dia ditemukan oleh wanita anak dari keluarga tersebut dan diberi pengobatan. Anaknya tersebut bernama Haruka. Dia yang merawat Felix sampai sembuh dan memberinya nama tambahan yang menjadi Felix Fujinkai. Haruka mempunyai kakak yang bernama Kyurousi dia adalah samurai yang hebat, tapi sepertinya dia tidak menyukai Felix. Dia merasakan kekuatan yang aneh dari diri Felix, sesuatu yang mengerikan. Dikehidupannya kini Felix dia harus bertemu dengan orang- orang baru, teman- teman baru.
Suatu hari Alex dan Zest marahan,lalu Zest tidak ingin pulang bareng Zest. sama dia juga tidak mau berjalan bersama dengan orang yang sedang marah, terlebih dengannya. Vesa yang saat itu mengetahuinya tak peduli, karena hal ini sering sekali terjadi. Zest yang berpura- pura marah sebenarnya ingin jalan- jalan sore.
Alex yang tengah berjalan- jalan sambil menggerutu pada Zest merasa diikuti oleh seorang pria. Dia mempercepat langkahnya lalu menengok ke belakang, berjalan lebih cepat lalu mnengok kebelakang lagi, tapi orang tersebut selalu bersembunyi dan sesekali seperti orang yang linglung.
“Hei kau sebenarnya apa maumu.”kata Alex dengan kesalnya
Tapi orang itu bukan tidak menghiraukan ucapannya Alex dan tetap berpura- pura seperti orang linglung.
“Dia!!!!orang yang aneh.”ujar Alex dalam hati
Karena kesal Alex lalu mengahajarnya langsung dengan pukulannya. Saat dia melancarkan serangannya sambil berbalik badan, tak disangka orang tersebut ada di tepat dibelakangnya dan meniupkan angin sepoi- sepoi ke telinganya Alex sambil memberikan sepucuk kertas ke saku celana Alex tanpa ia sadari, karena ia kegelian. Lalu orang aneh itu pergi. Alex sangat kaget dan kesal melihat tingkah laku orang aneh itu.
“Grooooo. Perutku... aku lapar. Apa tidak ada makanan disini?”bertanya pada diri sendirisambil melihat sekeliling. Ternyata banyak makanan disekelilingnya
“Memmang sih banyak makanan. Tapi aku sama sekali tidak punya uang.....”sedih Alex
“Eh tunggu dulu.”dia mengambil sesuatu yang disangkanya uang didalam kantong celananya.
“Apa ini, seperti sebuah alamat tempat tinggal. Tapi punya siapa ya. Ah tak usah pikir panjang ambil saja sisi baiknya. Mungkin disana ada yang memberiku makan.” Dengan senangnya langsung pergi kealamat yang dituliskan
Kemudian setelah sampai
“Sepertinya disini, tapi tidak terlihat seperti rumah yang kuharapkan, tapi kalau tak dicoba mana tahu.”kemudian Alexpun masuk kedalam rumah tersebut
“Gelap sekali dan banyak debu. Ah ternyata dugaanku salah. Aku lebih baik pulang dan makan dirumahku saja.”saat Alex membalikkan badan ada lilin menyala dan wajah seseorang ada di belakang lilin tersebut. Alexpun menengok siapa gerangan orang tersebut.
“Hei bukankah kau yang tadi?”tanya Alex
“Aku ingin membawamu ketempat asalmu. Kelangit yang luas.”
“Kau ini. Bicara apa sih aku tidak mengerti.”ujar Alex
“Bila kau tidak mau akan kubunuh ibumu sebelum kau sempat melihatnya.”jawab orang aneh tersebut
Alex yang mendengar ucapannya mendadak hilang kontrol. Marah dan tanpa pikir panjang dia langsung memukulnya dengan sangat keras, tapi orang orang tersebut menghilang sebelum sempat pukulan Alex mengenainya dengan cara lilinnya ditiup sambil mengatakan sesuatu,“Aku....benci....kegelapan.”ledakan yang ditimbulkan dari pukulan Alex mengakibatkan beberapa rumah hancur. Akibatnya dia beurusan dengan polisi setempat. Alex yang takut melarikan diri
“Kau tidak apa adik kecil?”tanya Nobel seorang anak yang bercita- cita ingin menjadi polisi
“Ya. Terimakasih kakak.”sambil tersenyum Nobelpun pergi
Ternyata Nobel melindungi anak tersebut dengan kemampuannya mengendalikan metal sesaat sebelum anak kecil itu terkena api dari Alex
Di satu sisi Zest yang sedang berjalan, Zest mendengar ledakan dan melihat asapa yang ditimbulkan tersebut berkata
“Anak itu ada- ada saja, pasti sekarang dia sedang dikejar- kejar polisi atau semacamnya. Dasar...anak yang ceroboh.”kemudian dia berjalan lagi
“Zest, tolong.....”teriak Alex
ditengah jalan dia melihat segerombolan orang yang mendekati Dhas. Orang- orang tersebut ternyata ingin menculik Dhas. Hal itu bukan hanya dilihat oleh Zest, tapi juga Visnu. Zest yang keluar duluan untuk menyelamatkan Dhas, mengubah niat Vinu untuk menolong. Ia hanya melihat saja sejauh apa kemampuan teman sekelasnya. Zest memanggil orang- orang tersebut dan berkata
“Ada apa Dhas, siapa mereka, temanmu?” tanya Zest dengan lugunya
“Ini bukan saatnya menanyakan hal itu!”dengan tegasnya Dhas menjawab.
“Sepertinya aku mengganggu ya, baiklah kalau begitu aku pergi, dah...”balas Zest lalu pergi
“Hei Zest mau kemana kau, cepat tolong aku!”maki Dhas dengan tegasnya
“Oh begitu ya. Bilang dong dari tadi.”dengan bodohnya dia menjawab
“Mengapa disaat seperti ini dia yang datang sich.”keluh Dhas dalam hati
“Bodoh.”ucap Visnu dalam hati
Para gerombolan tersebut menoleh kearah Zest dan tanpa basa basi bertubi- tubi menyerang Zest. Dengan santainya Zest menghindari setiap serangan yang dilancarkan dan tentunya tidak lupa tersenyum.
Visnu terus memperhatikan setiap gerakan Zest, sedikitpun Zest tidak mengeluarkan satu juruspun. Setelah beberapa lama para gerombolan tersebut kelelahan. Zest mendatangi mereka dengan perlahan sambil kedua tangan diatas kepala dan tersenyum. Para gerombolan ketakutan, Zest mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Para gerombolan semakin ketakutan. Ternyata yang diambilnya adalah sebuah kartu bridge. Zest lalu mengambil salah satu kartu dan menaruhnya di depan mata kanannya dengan diapit kedua jarinya.
Kartu yang diambilnya ternyata kartu Joker. Semua yang melihat terdiam dan bertanya- tanya.
“Kartu yang ku ambil ini merupakan petunjuk bagiku tentang apa yang harus ku lakukan pada kalian.”seru Zest
Semuanya terhenyak karena kartu Joker adalah kartu kematian bagi siapapun yang mendapatkannya.
“Ucapkan selamat tinggal pada dunia!” dengan senyum yang mengerikan
“Jangan- jangan bunuh kami.” kata salah satu dari gerombolan penculik
“Sudah terlambat!”ucap Zest
Lalu Zest mengeluarkan semua auranya yang sejak tadi dipendamnya. Visnu dan Dhas terdiam dengan kekuatan serta aura yang dikeluarkan oleh Zest. Sampai- sampai Alexpun yang berada sangat jauh ikut merasakannya.
“Apa ini, perasaan apa ini?padahal hanya auranya saja, tapi rasa takut ini?”Ucap Visnu dalam hati
“Dia....sangat berbeda dengan Zest yang dikelas. Aku sangat takut, tapi seakan rasa ini melindungiku.”bertanya dalam hati Dhas
“Aura ini....Zest. Dia pasti sedang bertarung sekarang, aku harus kesana.”ucap Alex, sambil berlari mendatangi asal aura tersebut, setelah menghancurkan rumah.
Semua gerombolan ketakutan, Zest membuang kartunya dan langsung berlari dengan kencang kearah gerombolan tersebut sambil memegang kartu di setiap sela jarinya. Semuanya langsung pingsan, padahal mereka hanya merasakan auranya saja.
“Hai kenapa kalian, aku kan hanya bercanda.”ucap Zest dengan lugunya
“Orang yang aneh, tapi Auranya tadi. Dia bukan orang sembarangan, aku harus waspada terhadapnya”ucap Visnu dalam hati dengan perasaan yang terhenyak
“Dia, ketakutan yang tadi kurasakan terhadapnya. ”ucap Dhas dalam hati
“Dhas, kau tidak apa- apa?”tanya Zest sambil menghampiri Dhas.
Visnu dengan sigap langsung berada di depan Dhas.
“Visnu?Oh jadi begitu, sejak tadi kau berada di atas dan tidak membantu kami?!”tanya Zest
Visnu terdiam sambil waspada. Tiba- tiba muncul 3 orang lagi.
“Oh tidak, apalagi ini?”Zest mengeluh
Tiga orang tersebut adalah Aska, Luqas, Velca. Mereka ingin mengambil Dhas agar mereka mendapat bonus dari pimpinan mereka, karena telah membawakan misi yang kini sedang dilaksanakan oleh Felix dan Visnu, tapi sialnya Visnu telah mendapatkannya duluan.
Aska,”Lama tak jumpa ya...Visnu?”
“Mau apa mereka kesini”ucap Visnu dalam hati dengan perasaan khawatir.
“Oh jadi kalian sudah saling kenal ya.”kata Zest
“Mau apa kalian datang kemari.”balas Visnu
“Ah tidak, Kami tidak sengaja lewat sini lalu melihatmu.” kata Aska
“Bukankah kalian mempunyai tugas yang lebih penting dibandingkan mencampuri urusan orang lain.”ucap Visnu sambil menatap mereka.
“Lama tak bertemu sifatmu sedikit berubah.”sela Luqas yang tiba- tiba ada di samping Visnu.
Visnu dan Dhas terpaku melihat gerakan Luqas yang sungguh cepat. Semua mata tertuju pada Luqas.
“Hai kau, yang selalu tersenyum sejak tadi.”Aska
“Aku.”jawab Zest dengan lugu
“Sepertinya kau cukup tangguh, aku ingin melawanmu.”tanya Aska
“Jangan bercanda.”jawab Zest sambil meletakkan kembali kedua tangannya di atas kepala
“Apa mata ini terlihat sedang bercanda.”Ucap Aska dengan tatapan mata yang mengerikan dan tiba- tiba berada di depan Zest, dengan kedua tangan di saku
“Menarik.”jawab Zest sambil tersenyum
Aska langsung memukul Zest dari samping kanan, tapi tiba- tiba Visnu menahan pukulan Aska.
“Hentikan, sudah cukup Aska, pergilah!”Tegas Visnu
“Baiklah, kami akan pergi. Luqas, Velqa ayo kita pergi.”Kata Aska
“Cih”ucap Luqas
“Baiklah.”Keluh Velqa
“Aku sangat tertarik padamu, kita pasti akan bertemu lagi, sampai jumpa. Semoga beruntung Visnu.”
“Lain kali main lagi ya.”dengan tenang Zest mengucapnya
“Bodoh, apa dia benar- benar Zest yang tadi kulihat, sosoknya yang menakutkan, tapi kenapa...kenapa aku sangat mengaguminya tadi”ucap Dhas dalam hati
Lalu mereka bertiga pergi dan sesaat kemudian Alex tiba.
“Alex?untuk apa kau datang kesini.”tanya Zest
“Kukira kau tadi sedang bertarung, karena aku merasakan auramu. Maka dari itu aku segera datang kemari.”jawab Alex
“Apa, perasaan apa ini?mata Aska yang belum pernah kulihat sebelumnya, lalu kedatangan temannya karena merasakan aura orang ini. Sebenarnya orang macam apa dia. Satu yang pasti, mereka bertiga datang bukan karena ingin bertemu denganku, tapi karena orang ini.”
“Dasar bodoh bila kau kesini berarti polisi juga?”tanya Zest dengan cemas
“Maka dari itu ayo cepat kita pergi sebelum polisi yang mengejarku datang.”jawab Alex
“Bila melakukan sesuatu selalu saja ceroboh, dasar kau ini.”
“Sudah cepat lengkapnya kuceritakan dirumah, aku tidak mau masuk penjara saat ini. Aku benci penjara.”
“Terlebih bila satu sel denganmu aku juga tidak mau, pasti merepotkan.”
“Mereka bicara apa seh?”tanya Dhas
“Ya sudah ayo kita pergi, kalian juga sebelum polisi salah menangkap orang.”ujar Zest kepada Dhas dan Visnu
“Polisi, Dhas kita juga pergi.”dengan sigap Visnu merespon dan langsung pergi dengan Dhas
Kemudian mereka kembali kerumah masing- masing. Sesampainya dirumah.
“Apa kau tadi bertarung?!”ucap Leo
“Hanya bermain- main saja.”jawab Zest
“Apa kau tahu akibatnya?!”tanya kembali Zest
“Memangnya kenapa, apa salah bila kalau dia bermaksud melindungi diri?”sela Alex
“Kau juga, apa aku telah memperbolehkanmu menggunakan kekuatanmu?Kenapa kau melakukannya?!”bentak Leo.
“Ketahuan ya.”ujar Vesa dalam hati
“Apa aku tidak boleh seperti Zest, melindungi diri sendiri dengan kekuatan sendiri!”balas Alex dengan kasar.
Semua terdiam. Mata Leo dan Alex saling bertatap dengan tajam satu sama lain. Zest mengisyaratkan pada Vesa untuk kebelakang dan mengambi meny iapkan makanan.
“Kau tidak akan mengerti.”ujar Leo
“Kau yang tidak pernah mengerti tentang peerasanku. Kau selalu mengatakan hal yang tidak ku mengerti, kalau memang takdirku menentang takdir dunia. Aku berjanji akan ku lindungi dunia, dengan takdirku.”bentak Alex
Leo terdiam sambil menatap Alex yang kesal terhadapnya. Tiba- tiba makanan datang.
“Makanan datang, ayo makan. Bicaranya nanti saja sekarang makan dulu?”Vesa dengan riang
“Alex aku tahu kau pasti lapar, ayo duduk dulu kita makan, kasihan Vesa telah membuatkannya.”kata Zest sambil membujuk Alex
“Jangan coba hentikan kami, Zest.”ujar Alex dengan menatap Leo
“Baiklah...kalau sudah begini mau diapakan lagi, tapi ingat kau harus dapat mempertanggungjawabkan kekuatanmu itu, bagaimana?”
“Benarkah,apa itu benar?baik baik aku pasti akan mempertanggungjawabkannya meski aku kurang paham bentuknya.”Jawab Alex dengan Riangnya
Kemudian Leo menggigit ibu jari sampai berdarah.
“Kalau begitu kau harus berjanji, janji antar laki- laki adalah pertaruhan harga diri, dengan darah.”
“Baiklah.”kemudian Alex melakukan hal yang sama dan menempelkan tangannya ke tangan Leo. Grrrr...bunyi perut Alex. Semua mata tertuju pada Alex dan perutnya
“Zest kau bilang ada makanan, mana?”tanya Alex
Zest kemudian menunjuk ke arah makanan.
“Tuh.”dengan lesunya.
“Berarti dia sungguh- sungguh ingin melakukannya sampai- sampai dia tidak tergoda dengan hidangan yang disajikan Vesa. Yah tak apalah selama dia tidak melakukan hal yang aneh- aneh.”kata Zest dalam hati
“Ayo makan. Hai kalian kenapa diam saja?kalau tidak mau aku habiskan semuanya ya?”kata Alex dengan semangat
“Sisakan untukku dong.”kata Vesa
“Mana bagianku?”sela Zest
“Ayo semuanya kita makan.”ujar Leo
Sekarang sekolah mengadakan Acara tahunan saat menjelang hari dibangunnya sekolah. Semua ikut ambil bagian. Vesa magang dengan caranya sendiri yaitu menjual bakatnya dan menyajikan masakan- masakan. Alex tak paham sebenarnya ada acara apa tapi yang jelas dengan begini dia bisa makan sepuasnya di tempat Vesa
“Hei Vesa ada makanan apa saja disini?”tanya Alex
“Apa kau berniat makan disini lalu tak mau membayarnya begitu!jangan berharap ya.”Ujar Vesa
“Kenapa kau bisa tahu?”tanya Alex
“Orang sepertimu sudah banyak dan mudah di tebak.”sahut Vesa
“Tak kusangka kau sangat mengerti diriku.”dengan senangnya
“Lebih baik kau pergi. Disini masih banyak yang harus kulakukan daripada kau merusak pemandangan bukankah lebih baik kau melakukan suatu aktivitas yang berguna. Lagipula dimana sibodoh yang satunya?”Tanya Vesa
“Aku tidak tahu, sejak tadi dia tak kelihatan.”
“Dasar kusuruh membantuku dia malah pergi.”pikirnya padahal Alex sedang asyik mengambil makanannya
“Aku pergi dulu ya Sa masih banyak pekerjaan nih.”ujar Alex
“Ya pergilah memang lebih baik begitu.”kemudian saat Vesa melihat makanannya. Ternyata Alex mengambil setengah makanannya
“Alex!!!akan kubunuh kedua orang bodoh itu bila ketemu.”marah Vesa
Dan ditempat biasa Zest diatap gedung sekolah bersama Dhas.
“Kenapa kau sangat menyukai langit Zest?”tanya Dhas
“Kau tahu, kalau langit di kota ini sudah menjadi bagian dari tubuhku. Dan seluruh bumi ini hampir sepenhnya dipenuhi oleh hatiku yang terbang bebas di langit yang luas. Jadi dimanapun kau berada disekolah ini bahkan disekolah ini aku dapat mengetahunya dengan mudah. Bahkan saat kau mandi.”ujar zest panjang lebar
“Apa...!!!”kesal Dhas
“Hei kenapa kau memukulku aku kan hanya bercanda.”
“Ya...hanya bercanda anggap saja tamparanku yang barusan hanya bercanda. Bila kau mengatakan hal seperti itu lagi....”
Kemudian ada yang datang
“Drekk..”pintu terbuka.
Ada dua orang yang datang yaitu Diessa teman dari Vo dan satunya lagi anak buahnya Vo. Meereka bermaksud untuk meminta bantuan terhadap Zest agar Alex mau tidak mau mendaftar untuk tournament disekolah.
“Aku kesana sebentar ya.”ucap Zest kepada Dhas. Zest tahu maksud dan tujuan kedatangan mereka
“Kalian mengganggu kesenanganku.”ujar Zest
“Aku ingin...”
“Meminta bantuanku agar adikku dapat bertarung kembali dengan bos kalian yaitu Vo agar dia bisa membalas kekalahannya yang lalu, bukankah begitu maksud kedatangan kalian menemuiku?”tanya Zest dengan percaya diri
“Baiklah kalau kau sudah tahu maksud kedatangan kami. Apa kau bersedia.”
“Apa yang kudapat?”tanya Zest
“Apa maumu?”tanya anak buah Vo
Kemudaian karena penasaran Dhas datang menghampiri
“Saat ini aku sedang tak ingin apa- apa, jadi bagaimana kita lakukan dengan sedikit permainan.”
Kemudian Zest mengambl 4 kartu yaitu As wajik, As kriting, As hati dan As Sekop. Kemudian Zest memberikan kartu tersebut pada anak buah Vo. Dhas hanya dapat memperhatikan yang dilakukan oleh Zest tanpa mengerti apa yang mereka semua sedang lakukan
“Karena aku berhak memilih apa saja jadi dengan 4 buah kartu ditanganmu itu akan membatasi pilihanku dalam mengambil imbalanku nantinya dan secara tidak langsung kau dan aku melakukan suatu serah terima yang sah dengan dua orang saksi. Bila yang terambil adalah kartu As wajik maka yang aku inginkan adalah sejumlah uang. Jika yang terambil olehku adalah kartu As hati maka kau harus menjaganya selama satu minngu ini.”
“Tetapi..”
“Eit kau yang bilang sendiri aku boleh memilih imbalanku lagipula sejak tadi pilihanku tidak terlalu menyulitkan bukan?baik aku teruskan jika yang terambil kartu As kriting maka perjanjian kita batal. Dan jika yang terambil adalah kartu As sekop maka itu artinya aku juga ikut dalam Tournament itu dan sebagai lawanku adalah....”ujar Zest dengan senangnya
“Zest kau ini...”tanya Dhas
“Dia.”sambil menunjuk kearah Diessa
Semua terdiam mendengar pilihan Zest dia ingin bertarung dengan Diessa. Diessa meski tampangnya kalem dan juga anggota OSIS tapi dia orang yang dihargai dan salah satu murid yang ditakuti disekolah.
“Bagaimana?”tanya Zest sambil tersenyum
“Menolak artinya perjanjian batal lagipula yang lebih membutuhkan dan merugi adalah kalian sendiri. Bagaimana?”
“Hei sombong sekali kau, lagipula kau belum boleh memtuskan sebelum kau mengambil salah satu kartu dari tanganku.”ujar anak buah Vo
“Baik kalau begitu kocoklah kartunya.”Ucap Zest
Kemudian dia mengocok nya dan Zest memilih kartunya.
“Jika dia benar- benar mengambil kartu As sekop maka dia berhadapan dengan Diessa dan bila hal itu terjadi anak ini pasti mati, selama ini yang bertarung dengannya tak ada yang selamat meski begitu dia tak pernah masuk penjara dengan alasan yang tak dapat dipertanggungjawabkan. Tapi meski dia benar- benar bertarungpun aku tak peduli karena dia yang memilih jalan kematiannya sendiri.”ujarnya dalam hati
“Hei lama sekali kuberi tahu ya meski kau mengocok beribu kalipun hal itu takkan merubah apapun.”ujarnya
“Apa maksudnya Zest?”tanya Dhas sambil menatap kearah Zest
Kemudian kartu yang terambil adalah Kartu As sekop.
“Sesuai perjanjian dia harus bertarung denganku.”sambil tersenyum senang
“Senyuman itu apa ini maksudnya. Dari awal dia tahu dimana letak setiap kartu dan memutuskan untuk mengambil kartu As sekop karena dia benar- benar ingin bertarung dengan orang ini.”ucap Dhas dalam hati
Lalu keduanya saling memandang. Zest tahu kalau Diessa orang yang kuat jadi dia memilih kartu As sekop. Firasat Dhas tentang hal itu benar kalau ia sebenarnya tahu letak setiap kartu.
“Baiklah kalau sudah diputuskan kau harus tetap menjalankan apa yang telah kami perintahkan. Kami pergi dulu.”ujar Anak buah dan mereka berdua langsung pergi
“Maaf ya Dhas aku tak memilih kartu As hati padahal dengan begitu mereka bisa menjagamu.”sambil menatap Dhas
“Zest apa yang sebenarnya kau pikirkan?”tanya Dhas dalam hati dengan menatap Zest kembali
Ada acara Study tour di sekolah semua mempersiapkan semuanya dengan baik, acaranya tinggal beberapa minggu lagi. Keluarga Alex dan yang lainnya juga ikut dalam tour ini jadi semua bekerja keras untuk mengumpulkan uang agar bisa membayar uang study tour. Zest yang menjadi spsialis mencuri barang- barang berharga hal ini tidak menjadi masalah, tapi hal ini tidak diketahui oleh yang lainnya kecuali Leo karena dia yang mengajari semua itu pada Zest.
Lalu Vesa sendiri sejak pindah ketempatnya yang baru ini langsung mencari tambahan uang saku dengan menjadi koki masak di sebuah restoran. Leo walaupun tidak membantu mencari uang untuk study tour mereka tetap bekerja seperti biasa menjadi tukang bangunan. Sedangkan Alex sendiri yang belum tahu apa yang harus ia lakukan, bahkan hanya dia yang tidak mempunyai sesuatu yang dapat dijadikannya uang. Kemudian Zest mengajaknya ke sebuah tempat. Yaitu tempat mencari uang dengan cepat, tapi karena Alex tajut tidak mau menuruti ajakan Zest maka Zest yang disuruh Vesa pula berdalih kepada Alex dengan cara.
“Hei Zest, tempat macam apa ini. Kau tadi bilang akan mengajakku makan.”
“Huh dasar yang ada di otakmu cuma makanan ya, aku mengajakmu kesini karena ada hal yang harus kau lakukan. Ayo kemari.”
Kemudian Zest mengajak Alex lebih kedalam lagi.
“Hei Zest, bukankah ini...”
Yap aku diperintahkan Leo untuk mengajarimu menggunakan kekuatanmu.”
“Kenapa harus ktempat seperti ini sich, seperti tidak ada tempat yang lain saja?”
“Kau yang bilang waktu itu, kau ingin melindungi dunia dengan takdirmu, aku membawamu kesini karena kau butuh bekal untuk melindungi dunia.”
“Sudah jangan bicara terus setelah ini giliranmu. Kau sudah kudaftarkan.”kata Zest
“Giliran apa, daftarkan apa, hei Zest aku tidak mengerti.”tanya Alex
“Ya bertarung, memang apa lagi. Sudah ya.”jawab Zest
“Tapi aku kan.”Bantah Alex
“Kau ingin menawar, jangan padaku.”kata Zest lalu menunjuk ke arah Vesa yang ada di sampingnya.
“Ayolah Alex kumohon, ku tahu kau pasti bisa. Jangan kecewakan kami. Lakukan demi aku.”
“Ya...baiklah.”Jawab Alex“Apa tidak terlalu berlebihan?”tanya Zest dengan menggerutu
“Sudah diam, lebih baik laksanakan tugasmu.”sahut Vesa
“Ya baik.”kemudian Zest pergi ke belakang menyiapkan uang taruhan
“Maaf Alex, Ini juga demi kebaikan mu. Kalau tidak begini kau tak akan bisa mengikuti study tour.”dalam hati Vesa
“Ayo- ayo kemari.”kata seorang penjudi
“Ya- ya aku, aku bertaruh untuk temanku Alex.”sahut Zest
“Hei kau bertaruh demi dia dengan uang sebanyak ini. Kau pasti bercanda. Ku beri tahu ya Dom itu belum pernah kalah sebelumnya, kini dia berhadapan dengan petarung amateur seperti temanmu itu, kau pasti menyesal.”
“Lebih baik paman menyiapkan uang kemenanganku, bagaimana?”kata Zest
“Kau ini. Jangan salahkan aku bila temanmu itu sampai mati ya.”kata penjudi itu kemudian Zest pergi
“Hei dimana semua uang ku. Pasti diambil oleh Zest, awas ya nanti.”
“Hascyim...siapa ya yang membicarakanku.”
Lalu Zest kembali ke tempat Vesa yang kini ada di luar arena memberi semangat sebelum Alex betarung.
“Kau harus menang kalau tidak.”kemudian Vesa pergi ke bangku penonton
“Glek.”takut Alex
“Hei, bagaimana?”tanya Zest yang baru datang
“Untungnya dia tidak ikut bertarung.”geram Alex
“Apa kau sudah siap. Ku ingatkan jangan melanggar peraturan.”
“Mari kita mulai saja pertandingan yang akan menentukan menjadi wakil dari Jakarts untuk dapat mengharumkan negara Indonesia di Tournament tingkat dunia.”kata pembawa acaranya
“Apa!pertarungan tingkat dunia. Apa maksudnya semua ini. Hei Zest?”tanya Vesa
“Mana aku tahu.”jawab Zest dengan bodo amat
“Sekarang kau harus ikut tournament ini.”ujar Vesa
“Apa...Aku tidak mau, siapa yang mau membahayakan dirinya dalam tournament ini. Aku menolak”jawab Zest dengan tegas
“Kau mau dia yang mati karena kebodohanmu atau kau yang mati oleh pukulanku.”
“Ya ya ya...baiklah. Tapi aku akan menyerah bila kurasa aku tak sanggup ya.”
Kemudian Zest mendaftarkan diri.
“Sepertinya yang ingin ikut dalam tournament ini sangat sedikit.”
“Pak aku ingin daftar.”ujar Zest
“Bukankah kau telah mendaftar kemarin.”
“Itu bukan untukku tapi untuk temanku dan sekarang dia sedang bertanding.”
“Oh sepertinya dia telah menang.”
“Apa!tidak mungkin. Padahal aku langsung datang kesini sesaat sebelum pertandingan dimulai.”dalam hati Zest
“Apa mungkin monitor ini berbohong?”tanya penjaganya
“Ternyata aku salah telah mengkhawatirkannya.”dalam hati Zest
“Apa kau jadi mendaftar?”Tanya penjaga tiketnya
“Jadi.”
“Maaf tapi sudah habis.”jawab penjaga tiket
“Kenapa kau tadi menanyakan hal itu?”tanya Zest dengan kesal
“Bukan itu, tapi jawabanmu tadi terlambat 1 detik dari pendaftar terakhir di seluruh dunia.”ujar penjaganya
“Ya baiklah lagipula aku tak begitu tertari dengan pertandingan ini. Sampai jumpa paman.”pasrah Zest
“Sayang dia terlambat, sebenarnya dia punya aura yang sangat kuat. Mungkin kalau dia ikut bertanding, dalam pertarungannya nanti akan sangat menarik karena dia akan berhadapan dengan orang itu.”kemudian penjaga itu pulang dan menutup pekerjaannya
“Sepertinya pertandingan ini akan jadi sesuatu yang sangat menarik. Walaupun pendaftarannya telah habis aku akan daftar dengan caraku sendiri.”
Lalu Zest kembali ke bangku penonton.
“Zest kenapa dengan bajumu?”Tanya Alex
“Ah tidak aku tadi habis terjatuh.”jawab Zest
“Dasar pembohong.”ujar Alex
“He..Ketahuan ya.”jawab Zest
“Bagaimana dengan tiketnya?”tanya Vesa
“Kau beruntung. Seorang pendaftar memberikannya padaku dengan Cuma- cuma.”ujar Zest
“Senyuman itu. Mungkinkah dia?”dalam hati Vesa
Kemudian di tempat Zest membabak belurkan pendaftar lain.
“Sepertinya telah dimulai.” Ujar Joker sambil menatap muridnya yang ada di belakang
“Panggung berdarah pentas dunia kegelapan.”ujar muridnya bernama Ring
“Bagaimana dengan lawanmu?”tanya Joker
“Telah ku bereskan. Layaknya orang ini.”jawab Ring
“Tapi orang ini lebih menyedihkan, luka yang didapatnya sangat parah. Orang yang menyerangnya pasti bukan orang sembarangan.”ujar Ring dengan serius
“Kini tiba saatnya pertarungan selanjutnya. Respaty melawan Hensky. Dipersilakan kedua peserta naik keatas.”
Kemudian Hensky menaiki arena partarungan tapi dimana Respaty?Zestpun kemudian melihat nama dari peserta yang telah dia habisi.
“Jangan- jangan!?”sigap Zest
“Ternyata benar dugaanku. Dia....”
“Ah benar nama orang itu Respaty. Aku lupa menanyakannya tadi.”
“Panggilan kepada Respaty. Bila dalam waktu 5 detik Anda tidak memasuki arena Anda akan langsung digugurkan.”
“Ya, Ya aku disini.”sambil menaiki arena.
Baik kalau begitu pertandingan akan segera dimulai
“Aku baru tahu kalau nama panjang kakak Respaty.”
“Itu wajar saja, karena Sejak awal namanya Zest. Dia hanya mengikuti nama orang yang mendaftar dipertarungan malam ini.”
“Lalu kenapa kakak tidak menggunakan nama aslinya.”
“Karena tiket yang didapatkannya bukan kepunyaannya, dia mengambil tiket itu dari peserta yang terlebih dulu mendaftar dan orang itu bernama Respaty. Mungkin dia telah kehabisan tiket. Kemungkinan besar dia telah menghabisinya”
“Kenapa?padahal tadi dia sangat tidak menginginkan ikut tournament ini saat ku perintahkan. Tapi kenapa dia sampai melakukan hal ini.”kata Vesa dalam hati
“Aku tak begitu mengerti tapi biarlah. Aku juga ingin bertarung dengan kakak.”ujar Alex
“Ayo Zest, eh Respaty hajar dia.”sorak Alex mendukung Zest
“Dasar bodoh.”sambil tersenyum
“Eh tunggu dulu, tadi kau bilang apa?kakak?”
“Memang kenapa memang benarkan dia adalah kakakku, apa Ayah belum menceritakannya padamu?”
“Ayah maksudmu Leo?”tanya Vesa
“Ya.”jawab Alex sambil memakan makanannya
“Tapi waktu itu dia mengatakan?”bertanya dalam hati
“Tidak apa- apa mereka memang selalu begitu, seperti kakak adik. Dan kami seperti keluarga.”sepenggal ucapa Leo pertama kali bertemu
“Hei untuk apa melamun lebih baik kita melihat pertarngannya.”
“Hei Zest kata Vesa bila kau kalah di babak ini. Vesa tidak akan memberikanmu jatah makan selama seminggu.”
“Apa....kalau tidak makan seminggu bisa repot urusannya. Baiklah kalau begitu.”sambil tersenyum
“Senyuman itu.”takut Vesa
“Kita mulai Hensky.”sambil mengerakkan tangan pemanasan sebelum bertanding. Tapi anehnya Hensky tidak ada ditempatnya
Kemudian Hensky menyerang saat Zest tidak memperhatikannya. Duaak pukulanpun kena telak di pipi kiri Zest.
“Hei pertandingan kan belum dimulai kenapa dia boleh menyerang?”tanya Zest kepada wasit sambil kesakitan
“Sudah dimulai sejak tadi, kau saja yang tidak dengar.”
“Habisi dia jangan beri ampun.”sorak penonton antusias
“Oh begitu ya.”ujar Zest dengan lugunya
“Huekkk.”Hensky mengeluarkan darah dari mulutnya
“Kenapa ini Hensky mengeluarkan darah.”
Semua terdiam.
“Sepertinya dia orangnya ya?”Joker
“Ya.”jawab Ring
Di jalan.
“Kini sedang ada tournament dunia. Dan yang sedang bertanding menentukan wakil dari Djakarts adalah Zest dengan Hensky. Tapi Hensky yang tadinya telah menyerang Zest tiba- tiba saja mengeluarkan darah. Sebenarnya apa yang sedang terjadi.” Kata komentator berita dari Tv swasta yang ada di Mal
“Akhirnya dia ikut juga, pasti Respaty itu telah dihabisinya. Tapi tak kusangka dia dapat menghabisinya dengan cepat sebelum pertandingan Respaty dimulai. Yang ku tahu Respaty itu orang yang sangat tangguh. Akan menjadi apa pertunjukkan dunia ini?”
Juri,”Oh apa yang sebenarnya telah terjadi disini. Mari kita sama- sama saksikan kedalam monitor.”
Ternyata Zest telah menyadari kalau pertandingan telah dimulai. Kemudian saat Hensky melancarkan serangannya Zest dengan kecepatannya yang luar biasa memukul Hensky dengan sangat cepat sampai- sampai tidak kelihatan. Yang lebih luar biasa adalah reaksi dari pada serangan Zest. Luka akibat pukulan Zest terjadi setelah beberapa saaat setelah Zest melancarkan serangan.
“Oh ada apa ini. Padahal sudah diperlambat api tetap tidak kelihatan. Mari kita perlambat lagi. Oh masih tetap tidak terlihat apa yang sebenarnya terjadi. O h sudah terlihat meski hanya samar- samar. Ternyata Zest melancarkan serangan saat Hensky memukulnya di awal pertandingan, tapi sungguh luar biasa seakan tak terjadi apa- apa dan efek dari serangan yang dilancarkan Zest terjadi setelah beberapa saat kemudian. Sungguh kecepatan yang luar biasa bahkan kamera yang sangat canggihpun harus memperlambatnya beberapa kali agar gambarnya kelihatan meski tidak begitu jelas. Kita tidak tahu jumlah pukulan yang dilancarkan oleh Zest terhadap Hensky. Sungguh jurus yang mengerikan.”kata jurinya
“Kau, Uhuuk.”kemudian Hensky pingsan dan kalah
“Zest pemenangnya.”sahut Juri
“Baru pertama ku lihat jurus yang mengerikan seperti itu. Zest....sudah berkembang sejauh apa kau?”kata Leo dalam hati yang melihat pertandingan mereka dari rumah
“Semua penonton terdiam, karena memperhatikan rekaman serangan Zes yang luar biasa.”
“Zest...ternyata kekuatanku masih belum cukup untuk dapat bertarung dengannya sekarang, tapi aku takkan menyerah. Aku takkan kalah darimu.”kata Alex dalam hati dengan tangan yang gemetar
Vesa melihat tangan Alex gemetar
“Sepertinya dia sangat ingin bertarung dengannya.”ujar Vesa dalam hati
“Hei ayo pulang, Vesa kau telah berjanji akan membuat makanan yang enak untuk kami berdua kan sekarang tepati.”
“Aku tidak pernah bilang begitu.”
“Makan...ya ayo kita pulang dan makan.”kemudian mereka bertiga pulang
“Mereka itu monster ya?”kata seorang penonton yang melihat pertarungan Zest dan Alex.
“72 pukulan tepat diperutnya.”kata Nobel yang juga menonton pertandingan tersebut.
“144 di seluruh tubuhnya.”kata Ring
“Apa... berarti anak itu melancarkan 216 pukulan kepada Hensky dalam waktu tak sampai satu detik.”kata seorang penonton yang mendengar ucapan Nobel
“Tepatnya 0,869 detik.”kata Ring
“Memang benar, dan tidak salah penonton menyebutnya Monster.”kata Joker yang ada disamping Ring
Mereka berdua terus melangkah kebabak selanjutnya. Alex dengan keganasannya meskipun dia terkadang mndapat kesulitan karena dia masih pemula dalam mengendalikan kekuatannya. Sedangkan Zest entah kenapa dia jadib sangat antusiasmeladeni tournament ini. Dengan sadisnya dia membantai semua lawan- lawannya. Sampai pada akhirnya babak semi final pertarungan antara Zest dengan Alex.
“Akhirnya aku dapat bertarung dengannya.”kata Alex dikamarnya
“Tok tok tok.”bunyi pintu
“Ya masuk.”kata Alex
“Oh kau Vesa ada apa?”tanya Alex
“Jangan bertarung dengannya.”ujar Vesa
“Apa maksudmu, aku tidak bisa. Aku menunggu hari ini. Aku ingin bertarung dan membuktikan siapa yang lebih kuat antara kami berdua.”
“Apa kau belum menyadarainya juga dia jelas- jelas berbeda denganmu. Dia jauh lebih kuat darimu. Kau tahu itu kan?”jelas Vesa
“Kalau soal itu aku tahu, tapi...tapi aku.”
“Aku sangat mengkhawatirkanmu apa kau tahu.”
Alexpun terdiam dia merasa baru pertama kali ini ada yang memperhatikannnya terlebih dia di kini dikhawatirkan oleh wanita yang disukainya.
“Ehm....aku mengerti tenang saja. Kakak, dia sangat istimewa aku sangat mengaguminya, tapi lihat sisi lainnya aku adiknya aku pasti juga punya keistimewaan dan kelebihan yang tidak dipunyai oleh kakak.”
“Kau ini. Keras kepala sekali. Aku takkan mengkhawatirkanmu lagi.”dengan bt dia keluar
Kemudian Vesa ketempat Zest.
“Zest cepat kalahkan dia.”
“Maksudmu Alex, tadi kau bilang ingin dia mengalah tapi sekarang kau menyuruhku untuk mengalahkannya. Sebenarnya apa maumu.”
“Aku takut dia melangkah lebih jauh lagi. Kau tahukan akibatnya bila ia yang menjadi juara di tournament tersebut.”
“Memangnya kenapa ini pertarungan antar lelaki tahu. Wanita tidak berhak ikut campur. Wanita hanya berhak menonton saja kau mengerti. Bila kaupun tak bisa mencegahnya apa kau pikir dapat mencegahku.”
“Semua sama saja. Kenapa laki- laki sangat senag berkelahi.”
“Dia pasti punya alasan yang sama denganku.”
“Dengan bertarung kami dapat merasakan Kebebasan. Itulah arti pertarungan bagi kami.”
“Aku tak peduli, tapi yang jelas kau harus mengalahkannya.”
“Mungkin kau tidak akan mengerti saat ini tapi nanti kau pasti mengerti alasan kami melakukannya.”
“Mari kita saksikan pertarungan dua sahabat yang kita tunggu- tunggu. Zest dengan kemampuannya yang sangat menakjubkan dan Alex dengan kekuatannya yang luar biasa.”
“Aku menyerah.”Kata Zest sebelum bertanding
“Ha...”semua orang terdiam.
“Kenapa ini. Tiba- tiba saja Zest memutuskan untuk menyerah.”
“Dasar bodoh. Itu bisa membahayakan Alex di final nanti. Akan ku bunuh dia nanti karena tidak memetuhi perintahku.”
“Maaf ya Alex untuk saat ini aku tak akan melawanmu, tapi bila saat tiba. Aku ingin sekali melawanmu.”
“Kenapa. Karena ada wanita yang sangat mengkhawatirkanmu.”
“Aku tak peduli.”
“Bila kau benar- benar ingin bertarung denganku. Kita lakukan suatu hari nanti. Dimana tidak seorangpun dapat mengganggunya. Bila ada orang terlebih wanita yang mengganggu kita bertarung. Tak ada lagi arti kebebasan dalam pertarungan. Ku harap kau mengerti.”
“Tapi kenapa kau sangat antusias dalam Tournament ini?”tanya Alex
“Aku hanya ingin seseorang yang ingin bertarung melawanmu tahu kalau disampingmu masih ada aku yang melindunginmu. Jadi bila kau jadi pemenangnya nanti kau juga tidak terlalu memusingkan siapa yang akan mengincarmu karena mereka lebih dulu takut ketika tahu ada aku disampingmu.”
“Aku tidak perlu perlindunganmu Zest. Aku akan menghadapi semuanya bila perlu kau. Bukankah sudah ku bilang aku tak mau dilindungi oleh siapapun, kini aku ingin membuktikan kalau aku juga bisa menjaga diriku sendiri. Jadi jawabanmu?”
“Tidak.”sambil tersenyum dan dengan cepatnya berpindah kebelakang Alex bermaksud memukul leher bagian belakan agar Alex pingsan, tapi Alex langsung menghindar sebelum terkena oleh pukulan Zest. Dia berpindah ke temapat Zest pertama berdiri. Kemudian.
“Brukk. Maafkan aku Alex tapi aku akan tetap melingimu dan itu takkan berubah, karena kau adikku.”ucap Zest
Zest menjatuhkan Alex dengan sekali pukulan. Dia menipu Alex. Zest pura- pura menghilang menyerang Alex ternyata Zest menggunakan bayangan anginnya yang tercipta di belakang Alex lalu ketika Alex berpindah tempat ketempat Zest berdiri dia langsung memukulnya.
“Wasit putuskan siapa pemenangnya.”ujar Zest kepada Wasit
“Ya pemenangnya adalah Zest.”kata wasit pertandingan
“Bukan tapi dia.”bantah Zest
“Bukankah kau?”tanya Wasit kepada Zest
“Bukankah tadi aku sudah katakan kalau aku menyerah sebelum pertandingan dimulai.”sahut Zest
“Oh begitu ya.”dengan bingungnya
“Baiklah pemenangnya adalah Alex karena Zest tadi sudah mengatakan kalau ia menyerah diawal pertandingan.”ujar Wasit
“Apa- apan ini bukankah jelas- jelas kita melihat kalau Zest yang menang karena berhasil melumpuhkan Alex dengan satu serangan.”kata seorang penonton
Kemudian Alex dibawa pulang oleh Zest
“Hei Vesa, kau bisa bantu aku. Dia..sedikit meyusahkan.”
Kemudian mereka berdua pulang.
“Jadi lawanmu besok dia ya?bagaimana?”tanya joker kepada Nobel
“Padahal aku mengharapkan anak itu yang bertarung denganku.”
“Kau tertarik juga rupanya. Besok akan kutunjukkan sesuatu yang menarik padamu.”
“Apa?”tanya Nobel
“Yang pasti tentang dia. Kau suka kan?ayo kita pergi.”
Kemudian Nobel dan Jokerpun pergi
Kita beralih kejepang. Felix kini menetap dirumah Haruka. Kakak Haruka bernama Kyurousi dan Kai. Nama Felix dibumi adalah Fujinkai. Dia tidak ingin karena namanya itu diketahui oleh anggota Lucky 7 lainnya termasuk Visnu yang meinginkannya. Nama Fujinkai diambil sebagian dari kakak Haruka yang bernama Kai dan separuhnya ia ambil dari nama gunung Fuji. Gunung tertinggi di Jepang. Itu juga karena letak Gunung tersebut terlihat dari rumah Haruka yang ada dipinggir pantai. Felix sering pergi tanpa ada yang mengetahui. Kyurousi terus mengawasi gerak gerik Felix tapi selalu saja dia tidak pernah menemukan jejaknya. Itu awal Kyurousi mulai tidak menyukai bila adiknya Haruka dekat- dekat dengan Felix. Dia takut kalau Felix adalah mata- mata dari perguruan lain yang menginginkan kehancuran perguruan ayahnya. Kyurosi pernah sesekali mendapati Felix pergi keluar.
Sebentar lagi ulang tahun Ayahnya, tapi semua pura- pura tidak tahu maksudnya ingin memberikan kejutan. Ayah Haruka adalah seorang pendiri sebuah perguruan yang diakui seluruh Jepang dan menjadi salah satu perguruan yang terkuat di Jepang
Haruka dan seluruh anggota perguruan bermaksud membawa Ayahnya ke pantai dimalam ulang tahunnya kemudian Haruka akan mempersembahkan kejutan buat Ayahnya. Haruka sangat sayang ayahnya.
“Dimana ya Fujinkai?”kemudian Haruka menatap ke arah pantai. Dan bau pertama kali melihat Fujinkai ternyata seorang pengendali air. Dia berjalan diatas air . Harukan perlahan- lahan menghampirinya. Kyurosi melihat adiknya ingin mendekati Fujinkai. Kyurousi sejak awal tidak menyukai Fujikai sejak awal.
“Ada apa?”Felix mengetahui kalau Haruka tengah berjalan menghampirinya
“Aku tidak tahu kalau kau seorang pengendali air juga. Kenapa kau menyembunyikannya.”ujar Haruka
“Aku hanya sedang tidak ingin melakukannya.”jawab Felix
“Kini apa alasanmu mulai melakukannya lagi?”tanya Haruka lagi
“Karena sebentar lagi sudah waktu aku pergi jadi aku harus membiasakan diri lagi dengan kekuatanku.”sahut Felix
“Kau mau pergi?Apa itu lama?”dengan khawatir karrena ternyata diam- diam Haruka menyukai Felix. Felix yang tidak enak kalau Haruka mengkhawatirkannya langsung mengubah topik
“Lalu apa alasanmu menghampiriku?”sambil membalikkan badan menantap wajah Haruka yang sedikit takut ditinggalkan olehnya
“Oh ya aku sampai lupa. Begini ayahku ingin ulang tahun aku dan seluruh keluarga besar ingin memberi kejutan pada ayahku.”ujar Haruka
“Apa kau sangat sayang pada ayahmu.”
“Ya. Aku sangat menyayanginya.”
“Karena kau juga bisa mengendalikan air bagaimana kalau kau juga ikut bergabung dengan yang lainnya?”undang Haruka
“Aku tidak bisa.”jawab Haruka
“Kenapa?”tanya Haruka
“Lebih baik aku...”jawab Felix
Kemudian Kyurousi memanggil Haruka
“Haruka kemari sebentar bantu kakakmu.”sahut Kyurousi dia tidaj ingin adiknya dekat- dekat dengan Felix.
“Ia, sebentar ya Haruka nanti aku kembali.”kemudian dia melangkah pergi
“Lebih baik aku menjagamu dari jauh.”kata Felix saat Haruka membalikkan badan. Haruka tersenyum senang
Kemudian dimalam hari
“Mau kemana kau malam- malam begini?”tanya Kyurousi
“Aku keluar karena aku ingin menikmati angin malam. Kau repot- repot keluar hanya ingin membututiku?”tanya Felix
“Ku harap kau tidak terlalu mendekati adikku.”sambil mengarahkan pedangnya kearah Felix
“Apa kau mengira aku ini mata- mata yang akan menghacurkan perguruan kalian?”tanya Felix
“Pedangku tidak pernah berbohong.”ujar Kyurousi
“Maaf saja tapi saat ini aku sedang tak tertarik untuk bertarung dengan siapapun. Bila kau ingin membunuhku lakukan saja.”ujar Felix dengan mata yang meyakinkan. Lalu berjalan lagi melewati begitu saja Kyurousi.
Felix kini berada di depan Kyurousi. Keduanya menatap mata masing- masing
“Padahal kau punya mata setajam itu tapi kenapa kau tidak tahu apa saja yang dilakukan ayahmu selama ini.”kata Felix
“Apa maksudmu?”tanya Kyurousi
“Tidak akan menjadi benar ucapanku bila tidak kau sendiri yang melihatnya. Ku harap kau ada saat ayahmu...”ujar Felix
“Diam kau.”Tegas Kyurousi
“Selalu saja seperti ini setiap aku bicara selalu saja kau memotongnya.”
“Kau yang tidak tahu apa- apa tentang kami lebih baik diam.Jangan sampai pedangku yang membungkamnya.”sahut Kyurousi
“Ya kau benar aku tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi pada kalian dan aku sungguh tak peduli. Jadi berbaktilah dan jaga ayahmu dengan baik karena kalau tidak....”ujar Felix
“Kau!!!”kemudian Kyurousi menebaskan pedangnya pada Felix tapi Felix langsung pergi sebelum pedangnya melukainya.
“Haruka pasti sedih, dia sangat menyayangi ayahnya.”ucap Felix hanya suaranya.
Felix punya sartu rahasia besar tentang ayahnya Haruka yang tidak diketahui oleh seorangpun termasuk keluarganya sendiri. Felix yang tidak punya urusan juga diam meski mengetahuinya. Dan dia pernah bertemu ayahnya di suatu malam ketika ayahnya melakukan suatu.
“Hei anak muda kenapa kau ada disini.”
“Meski aku ada disini sekarang aku tak peduli dengan apa yang anda lakukan.”
“Sepertinya hanya kau yang tahu tentang hal ini. Apa kau akan memberitahukannya?”
“Sudah kubilangkan sebelumnya aku sungguh tak peduli dengan semua yang kau lakukan saat ini. Dan aku tak tertarik untuk memberitahukannya pada siapapun.”
“Sepertinya kau bukan anak sembarangan. Setelah aku selesaikan urusanku maukah kau menemaniku.”
Kemudian Ayahnya Haruka menyelesaikan urusan yaitu bertarung dengan ketua dari perkumpulan lain. Setelah musuhnya ingin dibunuh
“Apa kau benar- benar tidak peduli dengan nyawa pak tua ini?”tanya ayah
“Lakukan saja.”
Kemudian dia benar- benar membunuhnya. Setelah itu keduanya ada di panggung yang sama sebelum pertarungan mereka berdua dimulai
“Tak salah putriku menyukaimu.”
“Bila kau ingin mengikatku dan bermaksud membungkam mulutku dengan mengorbankan perasaan anakmu sendiri kau terlalu naif.”
“Bukan itu maksudku. Kau itu punya banyak kesamaan denganku hanya saja kau masih muda dan belum banyak belajar tentang kehidupan. Bila kau mau menjadi muridku ku yakin kau akan sepertiku.”
“Itulah perbadaan antara kita. Kau terlalu ambisius dengan tujuanmu, sedangkan aku hanya menjalankan apa yang menjadi takdirku.”
“Kita lihat sejauh apa kau dapat melangkah dijalan takdirmu.”
“Tempatku bukan disini jadi aku tak layak untuk mati disini. Terlebih olehmu.”
Kemudian mereka bertarung. Pertarungan mereka diadakan ditengah lautan jadi tak seorangpun melihat biarpun ada nelayan. Keduanya tak memperdulikannya. Bila mereka mengganggu mereka langsung menenggelamkannya. Keduanya beradu kekuatan yang sama yakni jurus- jurus pengendalian air. Ayahnya Haruka sedikit tersentak karena jurus- jurus yang dikeluarkan oleh Felix sedikit beragam, tapi tetap saja pertandingan ini berat sebelah
“Aku sudah lama mempelajari jurus- jurus di dunia ini tapi aku belum pernah melihat jurus- jurus yang kau keluarkan. Sebenarnya siapa gurumu?aku ingin bertemu dengannya.”
“Itulah perbedaan kedua antara kau dan aku. Kau melakukan pengendalian yang terikat dengan jurus- jurus. Berbeda denganku yang sejak lahir mempunyai kebebasan untuk mengendalikan air dan tidak terikat pada gerakan dan bentuk untuk mengendalikannya.”
“Seorang pangeran pengendali air rupanya. Tak kusangka di bumi ada pemuda sepertimu. Memang anakku tak salah memilih seorang pria. Kita dapat berbagi metode dalam pengendalian jurus lalu kita jadikan perguruanku, perguruan yang terhebat dibumi. Dan setelah aku mati nanti kau yang akan meneruskan cita- cita ku menjadi yang terkuat dibumi ini, bagaimana?”
“Satu hal lagi yang membedakan antara kau dan aku. Kau....terlalu banyak bicara!”
“Oh Sungguh ucapan yang sangat berani. Kalau begitu aku akan mengajarkanmu sopan satun bicara dengan yang lebih tua.”
Kemudian tanpa bicara lagi keduanya bertarung. Disaat pertarungan Felix selalu memikirkan dimana pedangnya yang terjatuh saat pertama kali datang kebumi
Felix dengan kekuatannya sekarang masih belum cukup mengimbangi kekuatan Ayahnya Haruka. Bila dia berhasil menemukan pedangnya dia masih punya kesempatan untuk mengimbanginya. Kemudian dia terhempas karena serangan Ayahnya Haruka sangat jauh. Dia merasakan pedangnya didasar laut tempat ia bertarung kini. Saat ia menyelam ia meihat sesuatu yang aneh. Sebuak kota didasar laut. Setelah mengambil pedangnya dia kembali bertarung. Kini pertarunganpun jadi agak seimbang karena kedua blah pihak telah mempergunakan senjata yang sama. Saat keduanya sedang betarung tiba tiba
“Hentikan Anak bodoh.”
“Ayah.”
“Sudah cukup bermain- mainnya, ayo kita pulang.”
Kemudian tiba- tiba saja kakek itu ada di depannya Felix
“Kau bukan orang dari bumi. Mungkin kita dapat berbagi cerita lain kali.”
Kemudian mereka berdua pergi.
Felix yang kini telah tinggal di tempat Haruka ditugaskan untuk mengantar jemput Haruka sekolah itu juga karena Haruka yang memintanya langsung kepada ayahnya. Kai kakak Haruka tidak mau karena dia hanya ingin berlatih agar nanti bisa seperti ayahnya. Sedangkan Kyurousi tidak diizinkan oleh ayahnya untuk mengantar jemput adiknya sekolah karena dia harus menjaga latihan murid- murid. Padahal dia ingin karena tidak mau adiknya diantar jeput oleh Felix. Ayahnya tahu akan hal itu kalau anaknya tak suka dengan Felix tapi Ayahnya terlanjur menyukainya.
Setiap Felix mengantar Haruka ada yang tak senang dengannya. Raka namanya seorang lelaki sekelas dengan Haruka yang menyukai Haruka dari pandangan pertama Raka mempunyai kakak bernama Capella. Dia tahu adiknya menyukai Haruka anak dari keturunan yang mencelakakan keluarganya dan pergruannya. Seharusnya Raka membenci dan membalaskan dendam keluarganya tapi dia tidak mau. Capella yang licik tidak tinggal diam dengan kelicikannya dia mempunyai ide yaitu membiarkan Raka menyukai Haruka bila mereka dapat disatukan maka kekuasaan ayahnya dapat diwariskan dan dikuasai oleh Raka.
Kemudian dimalam saat acara ulang tahun ayahnya. Semua bersiap di tempat masing- masing, begitupun pihak- pihak yang ingin menghancurkan pesta tersebut. Ayah Haruka diajak ke bibir pantai dengan mata tertutup kemudian setelah matanya dibuka......DUARRRRR pesta dimulai para penari menari begitupun Haruka dia menari untuk Ayahnya. Kyurousi menjaga di perbatasan berjaga- jaga jika sewaktu waktu ada serangan dari luar. Kai dibelakang menyiapkan kembang api untuk acara berikutnya. Tapi ditengah- tengah acara terjadi sesuatu dan ledakapun terjadi dan yang pertama di tempat Haruka menari. Felix langsung ketepat Felix ayahnya Haruka dan kakeknya dilarang untuk pergi karena bisa saja mereka ada dimana-mana.
Haruka terjatuh ke air untung Felix segera menolong. Kai ada juga disana Felix menyerahkan Haruka pada Kai sedangkan Felix keatas sumber ledakan dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan siapa pelakunya. Setelah keatas Felix melihat dua orang yang sedang berantem.
“Hei tadi janjinya tidak mengenai Haruka kan?”tanya Raka pada kakaknya Capella
“Sudah kau diam, aku yakin dia tidak apa- apa , benarkan begitu?”tanya Capella kepada Felix yang memperhatikan mereka berdua
Felix diam dan tidak menjawab pertanyaan Capella
“Oh kau ini sedikit pendiam rupanya apa sikapmu itu didasari karena aku tadi hampir membunuh Haruka dan kau kesal lalu diam atau karena kau ingin mengetahui seperti apa lawan yang kau hadapi ?”ujar Capella
“Lawan yang menyerang emosi rupanya.”ucap Felix
Langsung saja Felix menyerang mereka berdua saking cepatnya Raka yang ingin menyerang balik kalah cepat tapi dari kejauhan ada seorang yang menembah kearah Felix dan Felixpun menghentikan langkahnya. Dia melihat orang yang menembakinya.
“Sudah datang rupanya.”ujar capella
“Keadaan ini sangat tak kusukai. Sementara aku tak bisa memikirkan langkah selanjutnya untuk menghadapi mereka karena belum tahu musuh macam apa yang kuhadapi. Bila aku melarikan diri itu akan membuat mereka semakin bisa mempeerluas daerah penghancuran. Aku dapat merasakan mereka lawan yang tangguh. Sejak awal mereka mengincar sebelah sini. Tapi satu pertanyaannya, kenapa?”tanya Felix dalam hati
“Biar aku yang menjawabnya bagaimana kalau sebuah kata, Cemburu?”kata Capella
“Ternyata memang seorang dengan kemampuan mengacaukan pikiran, salah satu jenis lawan yang paling ku benci. Kalau begini...”ujar Felix dalam hati
“Adikku cemburu karena kau terlihat selalu bersama dengan Haruka.”sahut Capella kemudian Levcas turun dari tempatnya
“Dari mana saja kau sejak tadi sudah kutunggu sampai kami harus memulainya tanpamu.”sahut Capella
“Aku ada urusan sebentar dengan teman lamaku.”ucap Levcas
“Soal adikmu itu bukan?”taya Capella
“Ternyata yang satu itu berbeda dengan mereka. Sepertinya ini perkumpulan yang pecah akibat perguruannya telah dihancurkan.”ucap Felix dalam hati
“Hei kau aku tak peduli siapa kau tapi jangan halangi kami.”ucap Levcas yag juga pecahan yang menjadi perkumpulan yang bertujuan memusnahkan perguruan ayahnya Haruka
“Sepertinya semua telah berkumpul disini rupanya.”ujar Kyurousi yang tiba- iba muncul
“Hooo kelihatannya sang pangeran pedang juga tak bisa di permainkan begitu saja ya.”Capella dengan senyum liciknya
“Untuk apa kau sampai repot- repot datang kemari. Kalau tujuanmu ingin mengambil mata- mata kalian silakan saja tapi setelah...”Kyurousi
Kemudian Kyurousi menghempaskan pedangnya ke arah Felix. Felix yang reflek langsung datang menghindar.
“Ternyata musuh dalam selimut ya, tapi sayangnya dia bukan orang kami. Kukira dia salah satu dari kalian.”ucap Capella
Semua kini saling mencurigai
“Kalau begitu bagamana dengan kalian sendiri. Kalian pasti tahu dengan kemampuannya dia juga bisa menjadi musuh dalam selimut.”ujar Kyurousi
Semua kini saling bertatap mata
“Kita mulai.”kata Levcas
Levcas Capella menyerang Kyurousi
“Raka kini lakukan sesukamu dia milikmu. Jangan lupa. Lakukan ini demi cintamu.”ucap Capella
Lalu Felix dan Raka menghindar mencari tempat yang lain. Kyurousi ingin ikut tapi dicegah oleh Levcas
“Mau kemana kau, disinilah tempatmu.”cegah Levcas
“Kita selesaikan hutang dimasa lalu.”lanjut Levcas Kyurousi mengeluarkan pedangnya
Capella langsung menyerang duluan tanpa adanya perintah dari Levcas, tapi tiba- tiba ada yang datang dari luar.
“Kalau begitu aku sisanya.”datang Kai
“Cih kau lagi.”gerutu Capella
“Bagamanapun juga tak boleh ada penyimpangan dalam rencanaku.”ujar Capella dalam hati
“Kakak yang lemah akan mudah dikendalikan dan terhasut oleh kata- kata gadis ini. Aku harus memisahkannya.”
Dan saat Capella ingin kabur ketempat Levcas dan Kyurousi berada slalu dihalangi oleh Kai. Dia tahu kemampuan Capella. Kakaknya yang tukang berburuk sangka dan emosian bisa- bisa dipengaruhi oleh Capella. Sedangkan Felix dan Raka
“Apa kau sangat menyayangi Haruka?”
“Siapapun yang berusaha mengambilnya dariku akan kuhancurkan.”
Saat raka ingin menyerang dan tepat di depan wajah Felix dia berhenti.
“Kenapa, kenapa kau diam?”tanya Raka
“Kalau begitu ambillah.”jawab Felix
Dia semakin tidak mengerti
Disatu sisi Capella dan Kai
“Ini aneh?”gundahnya
“Kau kenapa masih memikirkan rencanamu yang tidak akan berjalan sesuai rencana?”tanya Kai
“Dia... Cuma dia lawan yang paling tidak ingin kuhadapi, tapi apa boleh buat akan ku lakukan dengan cepat dengan cara ini.”kemudian dia mengambil aba- aba
“Sedang apa dia.”lalu tanpa pikir panjang dia mulai menyerang. Dia tidak tahu kalau Capella sedang menunggu saat seperti ini. Karena jarak dari jurus barunya belum terlalu jauh jadi musuhnya dia pancing agar mendekat. Dan saat Kai mulai mendekati Capella. Capella membuka matanya dan....
“Kena kau. Hanya dengan ini kau bisa di bereskan.”ucap Capella
Ternyata dia menggunakan jurus pengendalian pikirang sepenuhnya. Kini Kai ada di bawah komandonya.tapi itu tak berlangsung lama Ayah dan kakek Haruka datang.
“Dasar anak tak berguna. Terkena jurus rendahan seperti ini.”
“Kalau dia aku masih tak percaya kalau kakaknya baru aku percaya. Ngomong- ngomong dimana anak itu.”
“Biarkan saja aku ingin melihat hal yang lebih menarik dibandingkan itu.”
“Hei kau bawa adikmu pulang.”ujar Felix suaranya yang perlahan muncul orangnya
“Tidak mungkin Raka dikalahkan semudah itu. Dasar anak bodoh.”ucap Capella
“Hei anak muda kenapa kau tak membiarkan kami menonton sejenak.”kata kakeknya
“Aku mempercepatnya karena ku tahu kalian pasti akan segera datang. Ini pertarungan bukan tontonan. Lagipula ada kata- kata yang tak mungkin kalian mengerti.”
“Sombong sekali kau anak muda sama sepertimu waktu muda dulu.”
“Bagaimana ayah dia cocok dengan ku kan.”
Di lain pihak Capella lalu membawa adiknya pergi. Sebelum pergi dia ke tempat Levcas.
“Levcas kita pergi.”ucap Capella. Levcas menatap Capella dengan sinis.
“Sudah...saat ini sudah cukup.”kata Capella
“Hutang diantara kita belum selesai.”ucap Levcas yang kemudian pergi
Dan di perjalanan
“Dia?”tanya Levcas
“Ternyata diluar dugaan. Anak itu tak bisa dianggap remeh.”sahut Capella
Di tempat Felix ayahnya membebaska Kai dari jurus Capella. Lalu Kyurousi datang.
“Apa hutangmu sudah lunas?”tanya ayahnya
“Belum.”jawab Kyurousi
“Ada apa ini dimana wanita itu?”tanya Kai yang baru di lepaskan jurusnya Capella
“Mereka sudah pergi.”Jawab kakeknya
“Aku lengah dia berhasil menggunakan jurusnya padaku.”kata Kai
“Sebenarnya aku masih tak percaya kalau kau bisa terkena jurus wanita itu, tapi kalau kakakmu aku percaya.”kata kakeknya, Kyurousi kesal
“Bagaimana denganmu?”tanya Kai
“Tidak apa- apa.”jawab Felix
“Dia bukan anak sembarangan, selama dalam jurus Capella aku masih mendengar pembicaraan ayah kakek tentang Felix. Sepertinya ada yang istimewa darinya sampai alasan kedatangan ayah dan kakek bukan karena ingin membantu kami tapi karena ingin melihat pertarungannya.”ujar Kai dalam hati
Kai yang hanya bertanya kepada Felix tidak sadar kalau hal itu juga membuat Kyurousi semakin kesal karena merasa tidak dianggap dan lebih mengkhawatirkan Felix yang sangat dia benci
Kemudian saat di rumah.
“Ternyata dia benar- benar tidak ingin melawanku kemarin.”ucap Alex dalam hati.
“Bukan karena dia masih ingin menjagaku atau masih menganggapku anak kecil lagi yang harus dilindungi. Dia telah menganggapku sebagai seorang yang pantas untuk menjadi lawannya.”ucap Alex dalam hati.
“Aku juga ingin melawanmu tapi aku hanya ingin tidak siapapun yang menghalangi kita bertarung.”itu kata- kata Zest kepadanya sesaat sebelum Alex benar- benar pingsan
Dan saat pertandingan ingin dimulai
“Sebenatr lagi kita akan saksikan bersama- sama pertandingan yang kita telah tunggu- tunggu. Pertandingan Final yang akan menentukan siapa yang pantas menjadi wakil Djakart’s kepanggung dunia.”kata pembawa acara.
“Hei Vesa dimana Zest aku sejak tadi tidak melihatnya.”
“Dia sedang kusuruh mencari uang tambahan.”
Dan di tempat judi yang ada di sebelah tournament final
“Ternyata sudah ingin dimulai rupanya.”ucap Zest dalam hati
“Aku berhenti, ada urusan yang harus kuselesaikan sekarang. Senang dapat bermain dengan kalian.”lalu Zest pergi
“Aku juga, sangat menyenangkan bila bisa menghancurkanmu suatu hari nanti.”kata joker dalam hati
“Bukankah kau juga ada urusan?”tanya Joker
“Ya.”jawab Ring
Kini Alex sampailah pada babak Final.
“Ini yang terakhir, lakukanlah demi aku.”lalu Vesa mencium pipi Alex
Zestpun datang,”Hei bagaiman?”tanya Zest
“Yang mana?”tanya Alex yang sedang terbuai oleh ciuman Vesa
“Yang mana sajalah.”sahut Zest
“Sungguh mendebarkan.”terhanyut Alex
“Kini kau akan menuju panggung dunia jadi jangan semabarangan bertindak.”ujar Zest
“Aku mengerti.”jawab Alex
Kemudian lawan dari Alex datang
“Sepertinya ada pengecualian untuk yang satu ini.”kata Zest
“Pengecualian?”tanya Alex
“Lakukan sesuka hatimu jangan hiraukan yang lain.”kata Zest
Alex tersenyum,“Dari dulu memang begitu kan.”Zestpun terdiam
”Peraturan dibuat untuk dilanggar.”kata Alex
Kemudian Zest duduk di bangku pemain.
“Hei kenapa kau tidak bertaruh kali ini?”tanya Vesa
“Aku kini hanya ingin menikmati pertarungan seorang teman.”ujar Zest
“Tumben.”jawab Vesa
“Halo semua.”kata Leo yang baru datang
“Leo....Zest.”lalu memandang Zest dengan tatapan menyeramkan.
“Bukan dia yang memberitahuku, aku sudah tahu dari siaran di TV.”sahut Leo
“Bukankah kita belum punya TV, apa kau mencuri lagi Zest.”
“Untuk yang satu ini ada pengecualian. Aku membelinya karena tournament dunia diadakan di America. Jadi kalian berdua tidak bisa ikut karena kita tidak punya uang sebanyak itu. Jadi ku belikan TV agar kalian bisa menontonnya walaupun dari rumah.”
“Kami berdua....apa kau berniat.....?”tanya Vesa
“Dan saat itu tak ada seorangpun yang dapat mengganggu kami terlebih kau.”
“Zest....sebenarnya apa yang kau inginkan?”tanya Vesa dalam hati.”
“Alex hebat juga bisa melangkah ke final. Apa kalian tahu pertandingan ini di siarkan ke seluruh dunia. Tak ku sangka dia bisa belajar sambil memperlihatkannya pada dunia.”sahut Leo
“Itu berarti dia hampir bisa menepati janjinya, harusnya kau senang.”Zest sambil tersenyum.
Pertarunganpun dimulai. Zest tidak tahu kalau yang bertarung itu adalah Rig lawan tandingnya saat bermain kartu. Zest wajar tidak mengetahuinya karena dia selalu bermain kartu disini, tapi dia pernah bertemu sesekali dan bermain kartu dengan Joker dan setiap ada Joker slalu ada Ringdisampingnya. Ternyata Joker adalah pelatih dari Ring.
Kemudian datang Aska, Luqas, Velca.
“Mereka tertarik juga dengan buah yang belum matang.”ujar Zest
“Apa mereka yang kau maksudkan?”tanya Leo
“Mereka bukan orang sembarangan.”ujar Leo
“Satu hal lagi mereka bukan orang dari bumi. Karena mereka punya struktur tubuh yang lebih kompleks dan aneh dibanding dengan orang bumi.”sahut Zest
“Oh ya Zest bagaimana dengan uang yang kau kumpulkan dari hasil pertarungannya dan permainanmu. Awas ya kalau sampai kalah.”
“Ah tidak kau tenang saja, aku tak mungkin kalah.”
“Dia memang gadis yang mengerikan, selera Alex memang aneh, tapi cocok dengan karakteristik mereka berdua.”
“Sepertinya pertandingan akan segera dimulai.”ujar Luqas
“
“Bagaimana keadaanya?”
“Sangat tidak stabil.”jawab Vesa
“Zest, aku ingin bicara.”
“Baiklah.”
Kemudian mereka berdua kekamar tengah meninggalkan Vesa yang sedang menjaga Alex.
“Zest...apa kau tahu soal batu yang ada didadanya.”
“Oh batu aneh itu. Memangnya ada apa. Apa ada hubungannya dengan ketakutanmu selama ini.?”tanya Zest
“Ya selama ini yang ku lihat hanya ada satu batu yang bercahaya.”
“Itulah kekuatan yang ku maksudkan. Kekuatan yang baru kulihat.”
“Ya mungkin kalau kau tak melarangnya untuk menggunakan kekuatannya itu, pasti dia sekarang lebih hebat dariku. Kau hanya ingin dia bisa mengendalikan emosinya kan.”
“Kemarin emosinya memuncak.”ujar Leo
“Itu sebabnya Alex menjadi sangat mengerikan?”tanya Zest
“Akibatnya Alex tak bisa mengontrol tubuhnya dengan sempurna, lalu kekuaan yang ada di dalam batu itu mengambil alih tubuh Alex.”
“Akupun takut pada saat itu.”
“Aku tak menyangka anak itu mampu mengunci kekuatan yang keluar dari tubuh Alex, padahal aku pernah mencoba mengunci kekuatan yang ada dalam tubuh Alex tapi tak berhasil.”
“Sebenarnya dia sedikit beruntung. Dari informasi yang kudapat kemampuan yang dimilikinya adalah dapat mengendalikan Aura seseorang.”
“Kemampuan yang istimewa. Dia dapat menggunakannya dengan sangat baik.”
“Saat Alex berubah semua orang termasuk Ring ketakutan. Tapi dia melakukan hal yang benar, saat kekuatan Alex belum keluar sepenuhnya, dia mengobrak abrik dan menekan kekuatan tersebut, hal yang sama yang dilakukannya kepadaku waktu bermain kartu. Kemudian waktu habis, tapi kekuatan tersebut seakan menolak untuk kembali. Vesa yang mengkhawatirkan Alex langsung datang dan memeluknya, mungkin itu yang menyebabkan Alex tersadar.”
“Sebenarnya batu apa itu sampai kau melarang Alex menggunakan kekuatannya?”tanya Zest
“Batu suci 9 naga.”
Kemudian mereka semua berangkat ke yokyakart’s. Disana mereka menemukan banyak sekali kebudayaan serta kesenian. Ternyata mereka tidak sendirian. Ada sekolah lain yang pada waktu itu berpapasan di pantai. Sekolah Vesa tiba di pantai setelah anak- anak dari salah satu SMA di Yokyakarta. SMA Alex memilih tempat ini karena berhubungan ini hari terakhir jadi diputuskan untuk ber jemur sebentar di pantai sebelum pulang kembali ke Jakart's. Alex, Zest, dan Vesa sekarang tengah berjemur di pantai.
“Bukankah dia yang kemarin dikalahkan oleh Ring.”tanya seorang siswa dari SMA lain bernama Xenon.
“Aku tak tahu.”
“Ah kau ini, kerjamu hanya mendengarkan music sekali- kali kau harus gaul Pascal.”
“Music adalah bahasa Universal, bagiku itu sudah dinamakan bergaul.”
“Mungkin kau lebih baik mendengarkan music saja.”Lalu Xenon pergi untuk bermain voli pantai bersama temannya.
“Udara pantai memang sangat sejuk. Sepertinya aku akan lama disini.”kata Zest
“Dan sepertinya aku akan tertidur lelap disini.”
“Hei Alex disana aku lihat ada restoran yang sangat enak yang baru saja dibuka, katanya 100 pendatang pertama gratis makan sepuasnya.”
“Maaf Alex aku bebohong padamu, tapi aku tidak ingin diganggu sekarang dimana Dhas ya. Wa dia seksi sekali. Oh oh oh oh.”dia melihat Vesa juga sedang bermain Voli pantai bersama Dhas
“Hei bukankah itu Vesa. Tak ku sangka dia seksi juga. Kau menyesal Alex tidak menikmati pemandangan sebagus ini.”
“Selamat datang tuan restoran kami baru saja dibuka, jadi untuk 100 pendatang pertama gratis makan sepuasnya, silakan lewat sini”kata pelayan restoran
“Wah ternyata Zest tidak bohong.”
Kemudian di lapangan Voli Xenon datang
“Maaf nona- nona cantik, tapi sekarang giliran kami bermain.”
“Sepertinya ada sesuatu sesuatu. Alex kemana lama sekali.”
“Hei jangan seenaknya mengambil lapangan orang. Memangnya kau siapa.”
“Oh jadi kau ingin bermain denganku?”tanya Xenon dengan Vesa
“Bagaiman kalau aku yang bermain, tidak sepantasnya kan kau bermain dengan wanita.”
“Baiklah kalau begitu, pertandingan 2 lawan 2 Voli pantai.
“Tapi kalian sendirian.”
“Tidak. Aku dengan temanku Pascal, hei Pascal kemari.”
Pascal tidak mendengar karena dia sedang mendengarkan music
“Kau ini, bikin aku malu saja.”
“Waaa. Hei aku mau dibawa kemana.”
Kemudian Xenon dan Pascal datang.
“Sekarang sudah lengkap kan.”
“Pilih temanmu.”
“Hei Visnu.”
“Jangan bergurau.”
“Kalau begitu Boufard?”
“Aku?”
“Dia partner ku.”
“Apa kau yakin?”
“Sebenarnya tidak juga sich, sepertinya aku salah pilih orang.”
“Apa dia bisa diharapkan?”tanya Dhas
“Sepertinya dia sama saja dengan Alex. Ngomong- ngomong soal Alex. Dimana dia sekarang bukannya ikut membantu.”
“Hasyimm. Siapa sich yang membicarakanku. Mengganggu selera makanku saja.”
Perandinganpun dimulai. Banyak orang yang menonton pertandingan voli tersebut. Alex yang makan juga merasa Zest sedang bertarung.
“Hai katanya ada yang sedang bertanding Voli disana. SMA dari jakarta melawan SMA Xenon si petarung udara.”
“Ternyata benar pasti itu Zest. Aku harus kesana.”
Orang yang melihat Alex makan banyak pingsan karena semua menu habis. Kemudian setelah bermain ternyata kelompok Zest Boufard kalah.
“Bagaimana, apa kau sudah menyerah?”tanya Xenon.
“kemampuan yang dimiliki oleh Zest dan orang itu hampir sama ya, tapi Xenon sangat percaya diri rupanya.”
“Ah, aku tidak peduli itu. Dimana anak bodoh itu?”ujar Vesa dalam hati
“Hei Vesa ada apa ini. Kenapa dengan Zest dan Boufard keapa dia bersamanya?tanya Alex dengan lugunya
“Hah kau ini dari mana saja kau.”
“Makan.”jawab Alex dengan lugunya
“Dalam situasi seperti ini kau enak- enakan makan.”
“Sudah Vesa, dia kan tidak tahu apa-apa.”
“Sekarang kau main, sana gantikan Boufard.”
Kemudian Alex masuk menggantikan Boufard
“Tolong ya.”
“Tenang saja SMA kita tak akan ku biarkan dikalahkan
“Ya sebaiknya begitu kalau tidak kau tidak akan kuberikan jatah makan selama seminggu.”
“Kejam.”kata Zest dalam hati
“Hei bukankah dia yang Alex anak yang hampir mengalahkan Ring dalam pertandingan final beberapa minggu yang lalu.”kata seorang penonton
“Katanya dia berubah jadi monster waktu itu.”
“Hei Zest kenapa mereka semua menatapku seperti itu?”
“Apa kau tidak tahu mereka seperti itu karena pertandinganmu melawan Ring di siarkan di internaet.”
“Internet.”
“Dasar bodoh, sepertinya percuma memberitahukannya.”
“Begini saja, dengan kata lain pertandinganmu disaksikan ke seluruh dunia.”
“Apa. Jadi aku sekarang terkenal ya?”
“Bukan hanya terkenal, tapi kau juga diincar oleh banyak orang karena kau akan jadi wakil Indonesia yang akan mengikuti pertandingan dunia. Kalau tidak salah harga kepalamu seharga 1000000000.”
“Kepalaku semahal itu?”tanya Alex
“Ya itu karena kau akan dicalonkan sebagai peserta dalam pertandingan sedunia yang hadiahnya tak ternilai. Harga kepalamu tak sebanding dengan hadiah dari pemenang kejuaran dunia bulan depan.”
“Apa kalian sudah selesai bicaranya?”tanya Xenon
“Pascal, sepertinya ini akan segera menjadi pertandingan yang seru, bersiaplah.”
“Aku curiga jangan- jangan kau juga mengincar kepala dia dengan imbalan satu milyar itu.”
“Hei Zest aku ingin tanya.”
“Apa?”
“Lalu bagaiman status orang yang telah mengalahkanku?”
“Dia juga akan diincar oleh orang yang berikutnya, tapi hal itu harus melalui syarat yang telah ditetapkan.”
“Apa syaratnya?”
“kedua belah pihak yang ingin melawan wakil peserta harus mengadakan pertandingan resmi, diruang terbuka dan di saksikan oleh banya orang. Para panitia penyelenggara sudah mengirimkan pasukannya untuk menjadi wasit di pertandingan resmi. Jadi jangan kaget bila sewaktu- waktu.”
Semuanya kaget melihat perubahan bentuk dasar pantai yang berubah. Pantai berpasir kini menjadi pertandingan resmi dan akan diadakan pertarungan antara Xenon dan Pascal dengan Zest dan Alex yang menjadi calon dalam tournamen dunia.
“Inilah yang kumaksudkan.”
“Apa?”
“Sebuah perburuan.”
“Perburuan.”
“Inilah yang disebut perburuan harta dan kekuatan.”
“Lalu kenapa kau juga ikut dalam pertarunganku Zest.”
“Secara tidak langsung aku dipilih olehmu sebagai Back up mu, tapi aku juga berhak menyerangmu bila aku juga menginginkan nyawamu.”
Alex terdiam
“Tenanglah itu takkan terjadi. Aku hanya bercanda.”
“Aku tak tahu jelas tentang peraturannya tapi siapapun yang berusaha mengambl nyawaku ini, akan kulayani.”
“Hei sebenarnya apa yang terjadi, kenapa mereka dan semuanya tampak antusias.”
“Perburuan akan segera dimulai, ini pertandingan yang diselenggarakan 40 tahun sekali untuk mencari siapa yang berhak menjadi orang yang terkuat di dunia.”
“Ternyata kau tahu banyak.”
“Aku hanya diceritakan oleh ayahku dia pernah mengikuti tournament tersebut, kalau pertandingan mereka hanya pertandingan babak penyisihan. Hanya sebatas itu yang ku tahu.”
“Perburuan, harta, darah dan kekuatan. Ungkapan yang tepat untuk semua ini.”sahut Visnu
“Kejam demi mencari kekuatan mereka sampai harus melangkah terlalu jauh.”kata Dhas dalam hati
“Tapi dunia saja belum cukup.”
Pertandinganpun dimulai Alex bertarung dengan Xenon dan Zest membantu melawannya tapi Pascal menghalangi. Semakin menegangkan Alex diberi peringatan keras oleh Leo dan Zest untuk tidak termakan emosi oleh siapapun di pertandingan. Karena bia itu terjadi akan susah jadinya untuk menghentikan kekuatan itu. Terlebih walaupun sudah pulih Alex akan kehilangan kekuatannya untuk sementara karena dia belum dapat mengendalikan kekuatannya dengan sempurna.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar